ANTARA CINTA dan SAHABAT
Hidup akan indah bila kita masih
memiliki seseorang yang kita sayangi, seperti Clara, Clara masih memiliki orang
tua yang sayang dengannya dan saudara laki-lakinya yang sangat menggemaskan
yang masih kelas 4 SD. Serta tak luput mempunyai seorang sahabat yang baik yang
selalu bersama ketika dia duka, lara pun senang. Clara mempunyai sahabat dia
bernama Selda dan Vanya. Kemana-mana kami selalu bersama seperti layaknya besi
dan magnet yang sulit dipisahkan. Mereka pertama kenal ketika pertama MOS dan
memulai sekolah di SMU, Ketika itu Vanya duduk sendirian dan tak sengaja Clara
menghampirinya dan berkenalan. Setelah mereka berbincang-bincang cukup lama
datanglah seorang anak perempuan cantik putih bertahi lalat di bawah bibir yang
tipis. Tahi lalatnya itu membuat wajahnya menjadi manis dan disegani oleh kaum
Adam.
“Hai…. Vanya dah lama nunggunya yah???”
kata perempuan itu
“Ya… lama banget, kamu dari mana saja???? kata Vanya
“Maaf yach aku berangkatnya siang, soalnya bangunnya kesiangan… hehehe” jawab Perempuan yang berbicara dengan Vanya sambil tersenyum.
“O ya, untungnya ada Clara yang menemani aku di sini, Sel kenalin ini Clara teman sekelas kita juga lho. O ya Ra kenalin ini teman satu bangku aku namanya Selda” kata Vanya sambil memperkenalkan temannya.
“Kenalin aku Clara, aku duduknya di samping tembok dekat pintu sama Ana” kata Clara memperkenalkan dirinya kepada Selda.
“Aku Selda, kalo boleh tau lo tinggalnya dimana”?? Tanya Selda kepada Clara.
“Aku aslinya Banjarharjo, tapi di sini aku ngekost” jawab Clara.
“Kapan-kapan kita main ke kostnya Clara, Gimana,?? Vanya lo juga ikut yach”?? Selda melontarkan pertanyaan kepada Vanya.
“Itu ide yang bagus kita selalu kumpul-kumpul bareng di kosannya Clara, Gimana kalau kita buat genk saja?” usul Vanya.
“Aku setuju dengan pendapatmu. Nanti kita buat kaos yang sama, tapi dipikir-pikir nama genk nya apa yach”?? Selda menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal karena begitu bingungnya.
“Tapi maaf teman-teman bukannya gw menolak, tapi aku bener-bener gak setuju dengan pendapat kalian, aku ingin bersahabat dengan kalian. Tapi aku gak suka buat genk-genk seperti itu, takutnya kalau kita buat genk, banyak teman-teman yang benci dan iri.” jelas Clara.
“Yah… Ra, tapi……….”
Sebelum Selda melanjutkan pembicaraannya bel sekolah pun berbunyi tanda peserta MOS kumpul di halaman sekolah untuk diberikan arahan dan himbauan dari kepala sekolah.
Sungguh ribet dan susah kembali menjadi peserta MOS harus menggunakan kostum planet yang sungguh menyebalkan itu seperti pake kaos kaki yang berbeda,tasnya menggunakan kantong kresek,rambutnya di ikat lebih dari 10 buah,sungguh membosankan dan menyebalkan ketika dimoment-moment MOS seperti ini.
Setelah kumpul di lapangan Vanya dan Selda senyum-senyum sendiri, dan aku bingung kenapa mereka senyum-senyum tanpa sebab. Adakah sumbernya kenapa mereka senyum-senyum sendiri. Setelah aku perhatikan ternyata mereka tersenyum ketika melihat kakak Osis. Dan kemudian aku bertanya kepada Vanya,”Van, kamu dan Selda senyum kenapa??” Tanya Clara dengan penasaran.
“Asal kamu tau aja ya Ra, aku dan Selda itu ngefans banget sama anak kelas X-2 itu, terus gw jatuh cinta sama cowok itu katanya sih namanya kak Putra”. jawab Vanya.
“Yang mana?” Tanyaku lagi.
“Itu yang paling cakep sendiri, O ya aku juga ngefens banget ama kakak OSIS jangan bilang sama Selda yach kalo aku ngasih tau ke kamu, aku itu ngefans banget sama Kak Aditya sedangkan Selda ngefens sama kak Renaldy”. jelas Vanya.
“okey, tenang saja Vanya gw pasti gw bisa jaga rahasia ini kok, dijamin gak bakal bocor dech…….” kataku.
“Aku percaya kok sama kamu….. halah kaya ember saja bocor… . hehehehe”. Vanya sambil ketawa
Ketika asyik berbicara ternyata banyak pengarahan yang diberikan oleh kepala sekolah, sungguh menyesal sekali ku ini tidak mendengarkannya. Padahal banyak manfaatnya bagi kita khususnya bagi pelajar. Setelah beberapa lama kemudian peserta MOS di bubarkan.
Clara sedang berfikir sepertinya enak sekali rasanya ketika menjadi anak SMU. Sama seperti yang Clara rasakan saat ini Clara ingin cepat-cepat menggunakan baju putih abu-abu dan agar cepat diresmikan menjadi murid SMU, rasanya lama sekali menunggunya waktu seperti itu. Apalagi, rumahnya sangat jauh dari sekolah sungguh enaknya jauh dari orang tua dan bebas untuk pergi-pergi kemanapun yang kita inginkan bersama teman-teman barunya. Tapi Clara harus bisa mengendalikan diri dari pergaulan di zaman edan / gila seperti ini, kalau kita mengikutinya maka kita akan masuk ke dalam jurang neraka yang isinya orang-orang berdosa.
Kicauan burung menari-nari di angkasa, Sungguh indah bila ketika memandangnya. Embun pagi menyejukan hati Semerbak wangi mawar membuat segar perasaan kita. Indahya alam ciptaan tuhan yang maha esa, Tak ada yang bisa menandinginya,Karena tuhan adalah sang kholik pencipta alam semesta.
Ricuhan murid-murid SMU bagaikan burung-burung yang sedang menyanyi-nyanyi. Murid-murid mulai berdatangan menuju sekolah untuk menuntut ilmu, walaupun ada yang niat sekolah hanya ingin mendapatkan uang jajan dan ingin memiliki banyak teman. Murid-murid berdatangan ada yang naik motor, sepeda, naik bus mini, angkot, diantar orang tuanya menggunakan mobil, adapun jalan kaki.
Bel sekolah pun berbunyi sebagai tanda waktu pelajaran dimulai. Murid-murid dengan tenang belajar di sekolah. Hening sepi keadaan di sekolah bagaikan tak berhunikan makluk, Seperti di hutan sepi sunyi.
Bel istirahat pun berbunyi, murid-murid bagaikan pasukan burung yang keluar dari sangkarnya menuju kantin gaul Bu Tina. Perut mereka terjadi perang dunia ketiga mereka berebut makanan dan cepat-cepat mendahulukan mengambil makanan.
Aku tak nafsu untuk pergi ke kantin dan aku beranikan diri pergi ke perpustakaan.Setelah lamanya aku diperpustakaan datanglah seorang cowok ganteng yang diidam-idamakan oleh Vanya sahabatku sendiri.
“Hai…….Ra kok sendirian saja disini.” kata cowok itu yang bernama Putra.
“Yah…. teman-teman aku lagi ke kantin, padahal aku diajak kekantin sama mereka, tapi aku pengennya pergi ke perpustakaan……. hehehe” kataku pada Putra.
“O ya…… kamu les di Smart Innovatif yach??” Tanya Putra.
“Yah…..kok kamu tau sich…” jawabku
“Kan aku juga les disitu,terus gw juga sering merhatikan kamu lho!!” kata Putra.
“Memang kamu kelas X apa?, kok gw gak pernah lihat kamu?”
“Ruang X-B. o ya, kamu ruang X-A ya?”
“yapz……….”
Aku tak ingin dekat-dekat dengan Putra, Tapi aku juga punya perasaan sama Putra aku bingung kalau aku berdekatan sama Putra nanti Vanya cemburu. Kemudian ku pamit sama Putra.
“Put aku mau ke kelas dulu” kataku pada Putra.
“Owh….. Yah Ra silahkan”
Kemudian aku menuju ke kelas, sebelum masuk ke kelas, di jalan aku ketemu Vanya. Aku menyapa Vanya dengan senyuman. Tapi apa yang Vanya kasih padaku, Vanya bersikap sinis. Aku bingung kenapa Vanya bersikap seperti ini kepadaku, Kemudian aku mencari Selda. Aku ingin menanyakan kepada Selda. Tentang sikap Vanya kepadaku. Setelah kutemukan Selda, ku langsung menanyakan kepada Selda.
“Sel, aku boleh nanya sesuatu kepadamu gak?” tak sengaja air mataku membanjiri wajahku yang lembut ini.
“Nanya tentang apa?”
“Tadi aku ketemu Vanya, aku nyapa dia, Tapi dia cuek, malah dia bersikap sinis kepadaku, Apa salahku Sel?”.
“Apa benar tadi kamu janjian sama Putra di perpustakaan, kok kamu bisa ngehianatin sahabat sendiri sich”.
“Sel, tadi itu, aku gak sengaja ketemu Putra di perpustakaan, sumpah aku sebelumnya gak janjian, tolong bantuin aku, untuk jelasin ke Vanya Sel.”Aku memohon ke Selda agar dia bisa bantuin aku untuk jelasin ke Vanya.
“yah udah….gimana kalau pulang sekolah gw temuin kalian berdua”
“Terserah kamu Sel, yang penting Vanya tidak salah paham sama gw”
Kemudian setelah pulang gw nungguin Selda dan Vanya di kantin gaul, setelah beberapa lama aku nungguin munculah mereka dari balik kelas. Setelah aku melihat Vanya, Aku langsung peluk Vanya dan aku teteskan air mataku.kemudian aku memohon-mohon agar Vanya mempercayai penjelasin yang diberikan oleh aku padanya.
“Van, plis dengar penjelasan aku, aku gak ada hubungan apa-apa sama Putra, mana mungkin aku ngehianatin sahabat sendiri.”
“terus kenapa tadi kalian berdua ketemuan di perpustakaan.” Tanya Vanya.
“Aku gak sengaja ketemu di perpustakaan Van, kalau kamu masih gak percaya, gimana kalau kamu nanya langsung sama Putranya?”
“owh………..yah dech aku sekarang percaya kok sama kamu, masa aku percaya sama orang lain daripada sahabat sendiri, maafin aku juga yach Ra,,”.
“Memangnya tadi siapa yang bilang sama kamu”.
“Sudah, gak usah dibahas, gak penting”.
Aku bingung kenapa Vanya langsung maafin aku, padahal aku baru sebentar jelasin kapada Vanya. leganya perasaanku ini.
“Makasih Van”.
Kemudian kami pun saling berpelukan rasanya senang banget ketika kami baikan kembali. Setelah pulang sekolah, Aku seperti biasa membuka kembali buku pelajaran. Setelah ku membuka buku, tak sengaja ku temukan secarik kertas yang beramplop. Ku buka perlahan-lahan, tapi kenapa jantungku ikut berdetak lebih kencang. Kubaca perlahan-lahan…
“Ya… lama banget, kamu dari mana saja???? kata Vanya
“Maaf yach aku berangkatnya siang, soalnya bangunnya kesiangan… hehehe” jawab Perempuan yang berbicara dengan Vanya sambil tersenyum.
“O ya, untungnya ada Clara yang menemani aku di sini, Sel kenalin ini Clara teman sekelas kita juga lho. O ya Ra kenalin ini teman satu bangku aku namanya Selda” kata Vanya sambil memperkenalkan temannya.
“Kenalin aku Clara, aku duduknya di samping tembok dekat pintu sama Ana” kata Clara memperkenalkan dirinya kepada Selda.
“Aku Selda, kalo boleh tau lo tinggalnya dimana”?? Tanya Selda kepada Clara.
“Aku aslinya Banjarharjo, tapi di sini aku ngekost” jawab Clara.
“Kapan-kapan kita main ke kostnya Clara, Gimana,?? Vanya lo juga ikut yach”?? Selda melontarkan pertanyaan kepada Vanya.
“Itu ide yang bagus kita selalu kumpul-kumpul bareng di kosannya Clara, Gimana kalau kita buat genk saja?” usul Vanya.
“Aku setuju dengan pendapatmu. Nanti kita buat kaos yang sama, tapi dipikir-pikir nama genk nya apa yach”?? Selda menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal karena begitu bingungnya.
“Tapi maaf teman-teman bukannya gw menolak, tapi aku bener-bener gak setuju dengan pendapat kalian, aku ingin bersahabat dengan kalian. Tapi aku gak suka buat genk-genk seperti itu, takutnya kalau kita buat genk, banyak teman-teman yang benci dan iri.” jelas Clara.
“Yah… Ra, tapi……….”
Sebelum Selda melanjutkan pembicaraannya bel sekolah pun berbunyi tanda peserta MOS kumpul di halaman sekolah untuk diberikan arahan dan himbauan dari kepala sekolah.
Sungguh ribet dan susah kembali menjadi peserta MOS harus menggunakan kostum planet yang sungguh menyebalkan itu seperti pake kaos kaki yang berbeda,tasnya menggunakan kantong kresek,rambutnya di ikat lebih dari 10 buah,sungguh membosankan dan menyebalkan ketika dimoment-moment MOS seperti ini.
Setelah kumpul di lapangan Vanya dan Selda senyum-senyum sendiri, dan aku bingung kenapa mereka senyum-senyum tanpa sebab. Adakah sumbernya kenapa mereka senyum-senyum sendiri. Setelah aku perhatikan ternyata mereka tersenyum ketika melihat kakak Osis. Dan kemudian aku bertanya kepada Vanya,”Van, kamu dan Selda senyum kenapa??” Tanya Clara dengan penasaran.
“Asal kamu tau aja ya Ra, aku dan Selda itu ngefans banget sama anak kelas X-2 itu, terus gw jatuh cinta sama cowok itu katanya sih namanya kak Putra”. jawab Vanya.
“Yang mana?” Tanyaku lagi.
“Itu yang paling cakep sendiri, O ya aku juga ngefens banget ama kakak OSIS jangan bilang sama Selda yach kalo aku ngasih tau ke kamu, aku itu ngefans banget sama Kak Aditya sedangkan Selda ngefens sama kak Renaldy”. jelas Vanya.
“okey, tenang saja Vanya gw pasti gw bisa jaga rahasia ini kok, dijamin gak bakal bocor dech…….” kataku.
“Aku percaya kok sama kamu….. halah kaya ember saja bocor… . hehehehe”. Vanya sambil ketawa
Ketika asyik berbicara ternyata banyak pengarahan yang diberikan oleh kepala sekolah, sungguh menyesal sekali ku ini tidak mendengarkannya. Padahal banyak manfaatnya bagi kita khususnya bagi pelajar. Setelah beberapa lama kemudian peserta MOS di bubarkan.
Clara sedang berfikir sepertinya enak sekali rasanya ketika menjadi anak SMU. Sama seperti yang Clara rasakan saat ini Clara ingin cepat-cepat menggunakan baju putih abu-abu dan agar cepat diresmikan menjadi murid SMU, rasanya lama sekali menunggunya waktu seperti itu. Apalagi, rumahnya sangat jauh dari sekolah sungguh enaknya jauh dari orang tua dan bebas untuk pergi-pergi kemanapun yang kita inginkan bersama teman-teman barunya. Tapi Clara harus bisa mengendalikan diri dari pergaulan di zaman edan / gila seperti ini, kalau kita mengikutinya maka kita akan masuk ke dalam jurang neraka yang isinya orang-orang berdosa.
Kicauan burung menari-nari di angkasa, Sungguh indah bila ketika memandangnya. Embun pagi menyejukan hati Semerbak wangi mawar membuat segar perasaan kita. Indahya alam ciptaan tuhan yang maha esa, Tak ada yang bisa menandinginya,Karena tuhan adalah sang kholik pencipta alam semesta.
Ricuhan murid-murid SMU bagaikan burung-burung yang sedang menyanyi-nyanyi. Murid-murid mulai berdatangan menuju sekolah untuk menuntut ilmu, walaupun ada yang niat sekolah hanya ingin mendapatkan uang jajan dan ingin memiliki banyak teman. Murid-murid berdatangan ada yang naik motor, sepeda, naik bus mini, angkot, diantar orang tuanya menggunakan mobil, adapun jalan kaki.
Bel sekolah pun berbunyi sebagai tanda waktu pelajaran dimulai. Murid-murid dengan tenang belajar di sekolah. Hening sepi keadaan di sekolah bagaikan tak berhunikan makluk, Seperti di hutan sepi sunyi.
Bel istirahat pun berbunyi, murid-murid bagaikan pasukan burung yang keluar dari sangkarnya menuju kantin gaul Bu Tina. Perut mereka terjadi perang dunia ketiga mereka berebut makanan dan cepat-cepat mendahulukan mengambil makanan.
Aku tak nafsu untuk pergi ke kantin dan aku beranikan diri pergi ke perpustakaan.Setelah lamanya aku diperpustakaan datanglah seorang cowok ganteng yang diidam-idamakan oleh Vanya sahabatku sendiri.
“Hai…….Ra kok sendirian saja disini.” kata cowok itu yang bernama Putra.
“Yah…. teman-teman aku lagi ke kantin, padahal aku diajak kekantin sama mereka, tapi aku pengennya pergi ke perpustakaan……. hehehe” kataku pada Putra.
“O ya…… kamu les di Smart Innovatif yach??” Tanya Putra.
“Yah…..kok kamu tau sich…” jawabku
“Kan aku juga les disitu,terus gw juga sering merhatikan kamu lho!!” kata Putra.
“Memang kamu kelas X apa?, kok gw gak pernah lihat kamu?”
“Ruang X-B. o ya, kamu ruang X-A ya?”
“yapz……….”
Aku tak ingin dekat-dekat dengan Putra, Tapi aku juga punya perasaan sama Putra aku bingung kalau aku berdekatan sama Putra nanti Vanya cemburu. Kemudian ku pamit sama Putra.
“Put aku mau ke kelas dulu” kataku pada Putra.
“Owh….. Yah Ra silahkan”
Kemudian aku menuju ke kelas, sebelum masuk ke kelas, di jalan aku ketemu Vanya. Aku menyapa Vanya dengan senyuman. Tapi apa yang Vanya kasih padaku, Vanya bersikap sinis. Aku bingung kenapa Vanya bersikap seperti ini kepadaku, Kemudian aku mencari Selda. Aku ingin menanyakan kepada Selda. Tentang sikap Vanya kepadaku. Setelah kutemukan Selda, ku langsung menanyakan kepada Selda.
“Sel, aku boleh nanya sesuatu kepadamu gak?” tak sengaja air mataku membanjiri wajahku yang lembut ini.
“Nanya tentang apa?”
“Tadi aku ketemu Vanya, aku nyapa dia, Tapi dia cuek, malah dia bersikap sinis kepadaku, Apa salahku Sel?”.
“Apa benar tadi kamu janjian sama Putra di perpustakaan, kok kamu bisa ngehianatin sahabat sendiri sich”.
“Sel, tadi itu, aku gak sengaja ketemu Putra di perpustakaan, sumpah aku sebelumnya gak janjian, tolong bantuin aku, untuk jelasin ke Vanya Sel.”Aku memohon ke Selda agar dia bisa bantuin aku untuk jelasin ke Vanya.
“yah udah….gimana kalau pulang sekolah gw temuin kalian berdua”
“Terserah kamu Sel, yang penting Vanya tidak salah paham sama gw”
Kemudian setelah pulang gw nungguin Selda dan Vanya di kantin gaul, setelah beberapa lama aku nungguin munculah mereka dari balik kelas. Setelah aku melihat Vanya, Aku langsung peluk Vanya dan aku teteskan air mataku.kemudian aku memohon-mohon agar Vanya mempercayai penjelasin yang diberikan oleh aku padanya.
“Van, plis dengar penjelasan aku, aku gak ada hubungan apa-apa sama Putra, mana mungkin aku ngehianatin sahabat sendiri.”
“terus kenapa tadi kalian berdua ketemuan di perpustakaan.” Tanya Vanya.
“Aku gak sengaja ketemu di perpustakaan Van, kalau kamu masih gak percaya, gimana kalau kamu nanya langsung sama Putranya?”
“owh………..yah dech aku sekarang percaya kok sama kamu, masa aku percaya sama orang lain daripada sahabat sendiri, maafin aku juga yach Ra,,”.
“Memangnya tadi siapa yang bilang sama kamu”.
“Sudah, gak usah dibahas, gak penting”.
Aku bingung kenapa Vanya langsung maafin aku, padahal aku baru sebentar jelasin kapada Vanya. leganya perasaanku ini.
“Makasih Van”.
Kemudian kami pun saling berpelukan rasanya senang banget ketika kami baikan kembali. Setelah pulang sekolah, Aku seperti biasa membuka kembali buku pelajaran. Setelah ku membuka buku, tak sengaja ku temukan secarik kertas yang beramplop. Ku buka perlahan-lahan, tapi kenapa jantungku ikut berdetak lebih kencang. Kubaca perlahan-lahan…
Dear Clara….
Izinkan aku untuk berkata jujur padamu, Sebelumnya ku minta maaf kalau aku sudah lancang mengirim surat ini. Aku sadar, aku bukan apa-apanya kamu. Aku juga tak pantas memilikimu. Tapi semakin ku pendam perasaan itu, semakin sesak rasanya dadaku ini kalau tak segera ditumpahkan.
Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Tapi tiap kali aku ingin melepaskan diri darimu, Tapi tiap kali itu aku ingin semakin kuat untuk memelukmu. Dan aku merasa heran mengapa perasaan ini hanya terjadi padamu, mengapa tak tumbuh pada gadis-gadis yang lain, Bagi anak-anak lain mungkin menilainya, Mereka lebih cantik darimu?
Tetapi ini perasaanku, Aku justru suka padamu tak hanya karena kecantikanmu, Tapi juga karena innerbeauty mu sungguh menarik bagiku. Aku tak ragu lagi memilih gadis semacam kamu. Kamu ini memang tak ada duanya di dunia ini. Sudah beberapa lama ku pendam perasaan ini tapi baru kali ini ku beranikan diri utuk menyatakan kalau aku “CINTA dan SAYANG”sama kamu. Maafkan aku kalau aku tak gentel seperti anak laki-laki lain yang mengutarakan langsung di depan wajah dan bertemu langsung empat mata.
Tapi kalau kau mau agar aku langsung mengutarakannya aku akan mencoba, besok kita ketemu pulang sekolah di kelas X-G.
Orang yang mencintaimu
Putra Dwi Permana
Izinkan aku untuk berkata jujur padamu, Sebelumnya ku minta maaf kalau aku sudah lancang mengirim surat ini. Aku sadar, aku bukan apa-apanya kamu. Aku juga tak pantas memilikimu. Tapi semakin ku pendam perasaan itu, semakin sesak rasanya dadaku ini kalau tak segera ditumpahkan.
Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Tapi tiap kali aku ingin melepaskan diri darimu, Tapi tiap kali itu aku ingin semakin kuat untuk memelukmu. Dan aku merasa heran mengapa perasaan ini hanya terjadi padamu, mengapa tak tumbuh pada gadis-gadis yang lain, Bagi anak-anak lain mungkin menilainya, Mereka lebih cantik darimu?
Tetapi ini perasaanku, Aku justru suka padamu tak hanya karena kecantikanmu, Tapi juga karena innerbeauty mu sungguh menarik bagiku. Aku tak ragu lagi memilih gadis semacam kamu. Kamu ini memang tak ada duanya di dunia ini. Sudah beberapa lama ku pendam perasaan ini tapi baru kali ini ku beranikan diri utuk menyatakan kalau aku “CINTA dan SAYANG”sama kamu. Maafkan aku kalau aku tak gentel seperti anak laki-laki lain yang mengutarakan langsung di depan wajah dan bertemu langsung empat mata.
Tapi kalau kau mau agar aku langsung mengutarakannya aku akan mencoba, besok kita ketemu pulang sekolah di kelas X-G.
Orang yang mencintaimu
Putra Dwi Permana
Aku bingung,Aku tak tau harus berbuat apa. Aku bingung memilih salah satu ini CINTA atau SAHABAT. Kata-kata itu selalu menggoyang-goyang pikiranku. Aku punya persaan sama Putra dan aku juga gak mau menyakiti perasaan sahabatku. Kenapa bisa terjadi pada aku, kenapa tidak Selda??? Bukanya aku iri pada Selda, tapi karena perasaan bingung ini jadinya aku tak sadar menyalahkan Selda.... ya tuhan tolonglah diriku ini, aku harus berbuat apa?.
Kemudian aku berfikir, aku sudah janji hidup dan matiku akan ku pertaruhkan demi sahabatku yang ku sayang. Aku relakan Putra untuk sahabatku Vanya. Aku tak ingn melihat sahabatku sedih.
Aku sudah punya keputusan, aku gak akan terima Putra jadi pacarku, Tapi aku akan bersujud di depan Putra dan bermohon-mohon agar Putra mau jadi pacarnya Vanya.
* * * * * * Sekian * * * * * * * *
Komentar
Posting Komentar