HAL TERINDAH
“huft…
capek banget” keluhku lalu menjatuhkan tubuhku ke ranjang
“new
home, new neighbour, new school, new friends and hm.. new boy yang mampu
mengikis luka di hatiku. Aku mau tahu anak-anak jakarta itu gimana sih soalnya
dah lama gk ke kota ini”
“kakak”
aku dengar suara adikku memanggilku aku pun bangun
“what’s
up?” tanyaku. Adikku lalu masuk ke kamarku
“nih,
kakak disuruh ama bunda antar ke tetangga baru kita” adikku memberiku kotak
makanan yang cukup besar
“ah
kakak ngantuk kamu aja yah”
“BUNDA!!!!”
“wah
gaswat nih kalau nih kutu mengadu sama bunda” aku segera mengubah posisiku dan
berlari ke arahnya
“yaudah
sini. dasar tukang ngadu”
Aku
merebut kotak makanan itu lalu pergi ke rumah tetangga baruku. Setelah itu aku
kembali ke rumah
****
Aku
belum kenalan yah? Kalau begitu kenalkan namaku Clara Micely Angelina cukup
panggil aku Clara. Aku sebenarnya tinggal di Perth tapi karna ayahku
ingin tinggal selamanya di Indonesia tepatnya di Jakarta terpaksa aku harus
ikut dengan orang tuaku ke Jakarta. Aku anak sulung dari tiga bersaudara. Adik
pertamaku bernama Muhammad Coky panggil aja Coky, dia duduk di kelas IX. Adik
keduaku bernama Muhammad Ciko panggil aja Ciko. Dia masih SD kelas 6. Ok sekian
perkenalanku karna tak ada hal terindah dalam hidupku selain mereka, sebenarnya
dulu sih aku punya, tapi sekarang gk lagi, dia nyakitin aku tepat ketika aku
ingin pergi ke jakarta
****
Keesokan
harinya ini hari pertamaku sekolah di SMU Merak. Siswanya cukup ramah, seperti
saat isitirahat salah satu teman baruku Vanya dan Selda, mereka mengajakku ke
kantin bersama. Aku jadi betah bersekolah ditempat ini
Sore
hari aku mulai bersosialisasi dengan tetangga baruku. Aku dan adikku, Coky
pergi ke lapangan yang tak jauh dari rumah, saat sore disana banyak anak
seumuranku dan Coky. Coky bermain futsal. Sedangkan aku bermain voli
“hei,
kamu orang baru yah” tanya salah seorang anak gadis yang agak tomboy. Aku
mengangguk
“iya,
kenalkan namaku Clara” jawabku mengulurkan tanganku
Ia
membalas uluran tanganku
“Lani,
senang berkenalan dengan kamu”
Lama
bermain akhirnya aku lelah juga
“wah
ternyata kamu hebat juga Cla”
“ah
jangan begitu. Cuman kebetulan”
“kak
balik yuk udah sore” ajak Coky yang sudah berada disampingku
“iya
nih.. Lani aku balik dulu yah. Besok kita main lagi”
“sip” balas
Lani
Aku
merangkul coky lalu berjalan. Tepat saat aku melewati lapangan basket seorang
laki-laki menoleh ke arahku lalu tersenyum manis
“ng..
dia siapa? Wajahnya gk beda jauh dengan yang di perth” batinku lalu membalas
senyumnya setelah itu aku memalingkan wajahku
“kayaknya
aku gk punya teman yang tinggal di jakarta deh… dasar cowo SKSD” batinku
****
dan
seperti hari sebelumnya saat aku pulang laki-laki itu pasti tersenyum padaku…
hingga hari ini ia mengajakku berkenalan
aku
sedang istirahat dan memilih duduk dibawah pohon, dia pun datang dan duduk
disampingku
“hai,
kenalkan namaku Fakhry, aku tinggal di blok B. kalau kamu??” tanyanya sambil
mengulurkan tangannya. Aku tersenyum lalu membalas uluran tangannya
“Clara,
aku juga tinggal di blok B”
“oh iya,,
kamu orang baru yah disini”
“iya,
baru seminggu yang lalu”
“kamu
pindahan darimana?” tanyanya
“dari
perth”
“hm…
kamu lancar berbahasa indonesia”
“memang,
aku lahir di indonesia tapi saat umurku 6 tahun aku pindah ke perth dan
sekarang kembali lagi ke indonesia”
“kalau
boleh tau rumah kamu no berapa?”
“no 9.
Kamu?”
“kalau
aku no 12. Kamu sekolah dimana”
“cowo
ini banyak nanya banget” batinku
“SMU
Merak”
“aku
juga sekolah disitu. Memangnya kamu kelas berapa koq aku gk pernah lihat kamu”
“aku
kelas XI. Ipa-A. kamu??”
“aku
XII. Ipa-A. ternyata kamu adik kelas aku yah”
“aku
sih udah ngira kamu kakak kelas aku karna kelihatan dari muka kamu, lebih tua
dari aku” aku pun memulai candaku
“ih,
dasar kamu yah” cakka mencubit pipiku
“cakka
sakit tahu”
“habis
muka kamu ngegemesin”
****
Dan
kini aku sudah tahu bahwa cowo yang pernah ku anggap sebagai cowo SKSD itu
ternyata cowo yang baik, menyenangkan, dan bisa mencuri hatiku.. hahaha….
Semenjak
perkenalan itu, setiap hari Fakhry datang ke rumahku dengan berbagai alasan,
membuat Coky selalu meledekku ketika malam hari. Tapi aku senang. Terlebih lagi
saat Fakhry mengajakku pergi bersama ke lapangan. Betapa bahagianya aku
Disekolah
berbeda dengan di rumah. Di sekolah aku tak pernah berani mencari tahu tentang
‘Kak’ Fakhry, karena aku dengar dari Vanya kalau dia adalah most wanted di SMU
Merak, terlebih lagi dia adalah seorang ketua osis, ketua tim basket, dan siswa
berprestasi, jadi aku tak berani untuk mendekatinya di sekolah lebih tepatnya
tak berani menampakkan diriku padanya. Setiap aku melihat dia aku segera
berlari menjauh agar dia tak melihatku dan memanggilku, bukannya GR tapi Fakhry
memang orang seperti itu, lihat saja kalau sore hari di lapangan, aku baru saja
datang dia sudah meneriaki aku dan menyodori aku minum.
Tapi
sayang usahaku untuk bersembunyi gagal, hari ini tepat saat bel pulang berbunyi
Fakhry sudah berdiri di dekat pintu kelasku. Membuat para cewe berhenti dan
memberi pertanyaan konyol pada Fakhry
“kak
nungguin siapa?”
“kakak
mau jemput aku yah?”
“kak
aku udah mau balik nih. Yuk?”
“kak
cakka mau balik bareng aku. Iya kan kak?”
“Aku!!!”
“AKU!!!”
Didalam
kelas aku hanya geleng-geleng kepala melihat teman sekelasku bertanya seperti
itu. Vanya yang masih berdiri didekatku pun menoleh
“ini
pertama kalinya kak Fakhry berdiri didekat pintu kelas XI” kata Vanya lalu
keluar
“waw… demi
siapa tuh Fakhry berani nangkrik didekat pintu” batinku sedikit tertawa
“minggir
semua gw mau lewat. Ini kan bukan jalan nenek moyang lo semua” kata Vanya
menerobos cewe yang berdiri di ambang pintu lalu berdiri didekat Fakhry
“hai
kak, tumben kesini! Ngapain?” tanya Vanya
“ng.
hai.. kakak lagi nyari seseorang! Bener kan ini kelas IX.Ipa-A” tanya Fakhry
balik
Vanya
mengangguk. Fakhry pun menoleh kedalam, aku bersembunyi di bawah meja guru
“memangnya
siapa yang kakak cari?” tanya Vanya
“Clara!
kakak belum pernah lihat dia keluar berarti dia masih ada didalam kan?”
Vanya
terlihat kesal ia pun menoleh kedalam diikuti oleh Fakhry dan tak menemukan
aku.
Aku
berhenti menguping pembicaraan mereka dan terus berharap bahwa Fakhry segera
pergi. beberapa menit kemudian aku menoleh ke ambang pintu
“hufft..
udah sepi, syukurlah. Artinya Fakhry udah pergi” aku pun keluar dari bawah meja
“HAYOO!!
Ngapain disitu” seseorang mengagetkan aku, membuat aku tersentak dan kepalaku
kepentok meja
“aw…”
rintih sambil memegangi puncak kepalaku
“hahahaha”
orang itu tertawa tanpa rasa bersalah
Aku
keluar dari bawah meja dengan wajah cemberut
“ih
Fakhry jahat banget sih” aku ngambek dan berjalan keluar
Fakhry
menghentikan tawanya dan mengejarku
“yee
Clara ngambek. Sorry deh”
Aku tak
menghiraukan perkataan Fakhry dan terus berjalan keluar dari sekolah
“Clara,
sebagai permintaan maaf ku aku anterin kamu pulang yah”
Aku
masih diam.. terserah dia mau mengomel apa di belakang. Peduli amat, kepala ku
udah sakit gara-gara dia
Fakhry
menahan tanganku dan memutar badanku ke arahnya
“maafin
aku Ra”
“no”
tegasku
“yah
Clara koq gitu”
“salah
sendiri kenapa bikin aku kaget”
“kamu
sih kenapa pake acara sembunyi di bawah meja”
“karna
aku tahu kamu itu most wanted boy disekolah, kamu tahu gk sih, jadi seorang
sahabat selebriti itu sulit, pasti selalu jadi topik pembicaraan bagi seluruh
siswa. Apalagi aku baru seminggu sekolah disini”
Fakhry
menatapku membuatku semakin gugup
“kamu
pernah alami itu”
Jederr!
“aduh!
Kenapa Fakhry harus bertanya sepert itu sih”
“lepasin
tangan aku” aku mengalihkan pertanyaan Fakhry dan berusaha melepaskan tanganku
“gk
akan aku lepasin sebelum kamu jawab”
“apasih,
kamu gk pernah nanya deh”
“apa di
sekolah kamu yang dulu kamu pernah pacaran dengan seorang selebriti
sekolah”
“never!
Sekarang lepasin tangan aku”
“kalau
gitu kamu gk boleh sembunyi dari aku saat di sekolah, aku mau satu sekolah tahu
kalau aku dekat dengan kamu”
“kalau
itu mau kamu, lebih baik kita gk usah kenal” aku sudah terlampau kesal, aku pun
berhasil melepaskan tangan Fakhry yang memegangi tanganku
“apa
sih Ra salahnya, kamu berhak berteman dengan siapapun, jadi mereka mau bilang
apa terserah mereka tapi kamu harus tetap jadi sahabat aku”
“au ah
gelap!!”
“huh
Fakhry nyebelin banget sih” kesalku
Sesampai
di gerbang aku memilih untuk duduk di bawah pohon rindang sembari menunggu Coky
Lama
aku menunggu, Fakhry belum juga terlihat melewati gerbang, aku menoleh ke
parkiran motornya masih dengan indah bertengger disana
“Coky
mana lagi, lama banget jemputnya. Jangan-jangan tuh anak jalan dulu ama
cewenya, awas aja kalau iya aku laporin ama bunda”
Tiba-tiba
sebuah motor Satria Purple berhenti didepanku
“bareng
aku aja, Coky gk bakal datang”
“sok
tahu”
“bukannya
sok tahu tapi aku yang nyuruh Coky agar dia gk datang jemput kamu”
Aku
menghentakkan kakiku
“ih
Fakhry nyebelin banget sih kamu”
“aku gk
akan nyebelin kalau kamu mau maafin aku”
“no”
“aku
janji Ra, kalau kamu maafin aku. Aku gk akan kayak tadi, nungguin kamu didekat
pintu kelas. Asal kamu mau berangkat dan pulang bareng aku”
“tawaran
Fakhry cukup menarik, kan Coky juga gk repot” batinku
“yah Ra
maukan maafin aku”
“tapi
janji! Jangan kayak tadi. Kamu cuman boleh jemput dan antar aku pulang”
tanyaku.
Fakhry
mengangguk
“janji”
Aku
memukul tangan Fakhry lalu naik ke jok belakang motor Fakhry
“aw…”
rintihnya setelah itu ia tertawa
“gitu
dunk ik. Kan manis kalau gk lagi marah”
“udah
jangan banyak gombal. Buruan!!!” balasku. Fakhry pun menggas motornya
“HUAAA
FAKHRY!!!!” aku berteriak karna Fakhry yang gk kira-kira melajukan motornya
dengan kecepatan tinggi
Dengan
sungguh sangat terpaksa aku memeluk pingganggnya
****
Malam
ini aku sedang belajar didalam kamarku, lalu sebuah benda membentur kaca
jendelaku. Akupun berjalan ke jendala, membuka jendela. dan mengambil benda itu
“pesawat
dari kertas” batinku, lalu membuka kertas itu
Malam
Clara, aku kangen sama kamu
“siapa
sih yang iseng kayak gini” aku mengedarkan pandanganku ke sudut jalan yang ada
didepanku. dan kulihat seseorang melambai di depan gerbang rumahku
“Fakhry??”
gumamku.
Fakhry
menyuruhku untuk turun ke bawah aku lalu melihat ke sekitar berharap bahwa
kedua orang tuaku juga kedua adikku sudah tertidur pulas. Tapi kulihat lampu
kamar Coky masih menyala. Aku pun kembali ke dalam, mengambil sebuah polpen dan
kertas
Aku gk
bisa turun Coky masih tidur kalau dia ngelapor ama bunda, bisa gawat
Setelah
aku menulis kalimat di kertas itu, aku lalu melipatnya membentuk sebuah pesawat
lalu kembali ke jendela dan melemparnya ke arah Fakhry
Tak
lama kemudian sebuah pesawat kertas mendarat disampingku yang sedang duduk
disamping jendelaku.
Aku
membuka kertas tersebut
Padahal
aku pengen banget ketemu kamu, dengar suara kamu, lihat mata indah kamu.
Karna
aku gk bisa tidur gara-gara mikirin kamu
Blushh….
Wajahku mungkin memerah, aku merasakan rasa panas itu menjalar di wajahku
Aku pun
mulai menulis di kertas yang baru
Dasar
gombal kamu, emang kamu gitu yah sama semua cewe kamu
Setelah
selesai menulis kulipat kertas itu lalu ku luncurkan ke arah cakka
Satu
pesawat kertas kembali mendarat disampingku
Ini
pertama kalinya aku dekat sama cewe
“what?
Dia pasti bohong, masa’ cowo cakep kayak dia gk pernah dekat ama cewe sebelum
aku?” batinku tak percaya
Bullshit‼
aku gk percaya tuh
And
then, malam itu aku lalui bersama Fakhry melalu surat pesawat kertas itu (?)
Malam
itu terasa indah bagiku, apalagi mendapat pengakuan dari Fakhry bahwa ia
benar-benar belum pernah pacaran. Yah, aku benar-benar jatuh cinta pada Fakhry,
pada pandangan kedua, karna saat pertama kali bertemu, aku sangat jengkel
melihatnya
****
Hari
terus berlalu, dan hari-hari ku kini kulalui dengan kebahagiaan bersama Fakhry,
membuatku melupakan luka yang pernah aku alami di sekolah lamaku, ternyata
tidak semua cowo yang tampangnya berada di chart tertinggi di tingkat sekolah
itu tak setia. Contohnya Fakhry, sudah seminggu ini aku berpacaran dengan dia,
dan aku lihat dia masih setia denganku, atau mungkin karna masih seminggu, tapi
aku harap ini bertahan lama, tak seperti sewaktu di sekolah lamaku baru sebulan
aku merasakan manisnya cinta aku harus mengecap pahitnya di sakiti.
Tapi
selama aku jadian dengan Fakhry, ada yang aneh dengan Vanya. dia menjauh
dariku, bahkan semakin menjauh. Dulu dia adalah teman sebangku ku sekarang
bukan lagi. Sekarang aku sudah duduk di bangku belakang Vanya, yah itu
permintaannya. Aku sendiri bingung apa alasannya dia jadi menjauhiku seperti
itu, jika aku tanya dia hanya terdiam, membuatku semakin tak mengerti dengan
sifatnya
“Sel,
tau gk Vanya kenapa jadi kayak gitu” tanyaku pada Selda yang sekarang jadi
teman sebangkuku
“yang
aku tahu sih dia seperti itu sejak kamu jadian ama kak Fakhry. mungkin dia
marah sama kamu” jawab Selda
“marah
sama aku?”
“iya,
selama ini kan Vanya suka sama kak Fakhry, tapi kak Fakhry gk pernah tuh
anggapin perasaan dia”
“och
gitu yah”
“tapi
Ra kamu gk salah koq, itu hak kamu jadian ama kak Fakhry, Vanyanya aja yang
egois” Selda mengelus pundakku
Aku
hanya mengangguk dan sedikit tersenyum
“kalau
aku jadian dengan Fakhry apa harus Vanya menjauh pasti ada alasan lain” batin
Clara
****
Sore
ini aku dan Coky pergi ke lapangan. sebelum bermain, aku duduk disamping Fakry
“Khry,
kamu tau gk sih, selama kita pacaran tuh Vanya menjauh dari aku”
“memangnya
kalian ada masalah”
“nah
itu dia yang semakin bikin aku bertanya-tanya, karna setiap aku tanya sama dia
ada masalah apa, dia hanya diam”
Fakhry
merangkulku
“sudahlah,
mungkin dia ngiri sama kamu”
“aku?
Buat apa coba ngiri sama aku, aku kan bukan siapa-siapa”
“hei
kamu itu pintar apalagi sekarang kamu pacar ketua osis yang super duper keren
ini”
Aku
menunduk, menahan tawaku
“hahaha
kamu terlalu narsis Fakhry”
“tapi
itu benar bukan?”
“terserah
kamu, aku mau main sama Lani” kataku melepas tangan Fakhry dan menghampiri Lani
yang sudah stand by di lapangan voli
****
Bersama
Fakhry hari-hariku selalu bahagia. Seolah didunia ini hanya ada aku dan dia,
setiap hari Fakhry kerumahku, setiap malam dia mendongeng lewat ponsel. Aku
sungguh bahagia menjadi pacar Fakhry, dengan Fakhry lukaku terkikis bahkan
sekarang sudah menghilang, aku sudah melupakan pahitnya masa laluku bersama
orang sebelum Fakhry
Pagi
ini cakka menjemputku untuk pergi kesekolah bersama
“bunda
aku pergi dulu yah” pamitku lalu menyalami tangan bundaku
“pergi
dulu tante” pamit Fakhry juga menyalami tangan bundaku
“kalian
hati-hati yah” pesan bunda. Aku dan Fakhry hanya mengangguk
Setelah
Fakhry naik ke motornya aku segera naik dan Fakhry pun melaju ke sekolah
“Ra”
panggil Fakhry
“apa?”
tanyaku
“gpp,
cuman miscall, siapa tahu kamu ketinggalan”
“kamu
ini, udah gk usah miscall nanti kalau dengar suara lembut aku, kamu bisa gk
konsentrasi”
“wah
kamu udah mulai narsis nih”
“gk tau
nih, tiba-tiba aku ketularan narsisnya kamu”
“hahaha”
Fakhry hanya terkekeh
****
Sekarang
karna semua orang di SMU Merak sudah tahu bahwa aku adalah pacar dari ketua
osis dan ketua tim basket, aku gk takut lagi dilihatin jalan berdua ama Fakhry,
walaupun hati ku sering was-was ketika ada fans Fakhry yang benar-benar nempel
ama Fakhry, tapi aku berusaha menepis perasaan cemburuku itu karna cakka belum
berlebihan dengan fansnya
“eh Ra,
besok kan hari sabtu kita ke ancol yuk” ajak Fakhry, sekarang aku dan dia ada
di kantin sekolah
“gk
seru! Dufan aja gimana”
“dufan?”
Aku
mengangguk
“yaudah
aku ikut mau kamu”
“ih
kamu baik banget sih Khry”
“Fakhry
gituloh”
****
Sabtu
pagi, aku sudah siap di ruang tamu rumah ku sekarang tinggal menunggu Fakhry
untuk menjemputku
“cie
yang mau nge-date” ledek Coky
“ih
kenapa harus kamu yang sewot bunda aja gk marah atau kamu cemburu karna gk
dibolehin ama bunda untuk pacaran” balasku meledek Coky
“yee
bukan gitu kak, yah heran aja ternyata semudah itu yah lupain seseorang”
“Coky
kamu mau lihat kakak nangis darah, plis deh jangan ungkit masalah itu. Karna
kakak juga gk mau ungkit tentang Asya dihadapan kamu”
Coky
memajukan mulutnya
“yee
ngancemnya pake kata Asya melulu”
“habisnya
siapa lagi atau teman baru kamu itu si Milla, cewe yang selalu kamu anter
jemput”
“ih
bukan kak, Milla itu cuman teman aku”
Tiitt..tiitt…
terdengar suara klakson dari depan rumah, aku tahu siapa itu. Ia pun berdiri
“aku
pergi dulu bun” pamitnya pada bundanya yang ada di dapur. Ia segera
berlari ke luar rumah
“udah
siap?” tanya Fakhry ketika Clara berada disamping motornya
“iya”
“yaudah
berangkat sekarang”
Clara
naik ke jok motor Fakhry
“let’s
go” teriak Clara lalu memeluk pinggang Fakhry
****
Sesampai
di dufan, kami berdua masuk, Fakhry mengandeng tanganku dan mengikuti kemanapun
aku berlari. aku berhenti di depan wahana halilintar
“Khry,
kamu mau naik apa dulu?” tanyaku
“terserah
kamu” jawab Fakhry
“yaudah
halilintar aja yah”
“Ayok,
siapa takut” tantang Fakhry lalu menarikku masuk ke dalam antrian
Antrian
berakhir, giliran aku dan Fakhry naik ke wahana halilintar
Aku dan
Fakhry duduk di gerbong paling depan, pengaman turun dan menopang tubuh kami.
Tak lama kemudian kereta pun berjalan. Awalnya perjalanan lancar aku
menikmatinya, di perth aku jarang sekali ke tempat hiburan seperti ini
Kereta
pun menanjak
“waa….” Jerit
para penumpang yang lain termasuk aku. Aku menggenggam tangan Fakhry dengan
erat
Perjalanan
selesai, kereta berhenti aku dan Fakhry segera turun dari gerbong
“sekarang
mau kemana lagi Fakhry?” tanyaku semangat, Fakhry menoleh ke arahku
“semangat
banget Ra?”
“iya
soalnya ini pertama kalinya aku ke dufan, biasanya aku cuman di ceritain ama
Coky”
“hahaha
gk nyangka orang kayak kamu gk pernah ke dufan”
“iya
soalnya selama ke perth aku udah gk pernah balik ke indonesia”
“yaudah
kita ke tornado”
“ayo”
****
Sore
menjelang, sebelum kembali ke rumah Fakhry mengajakku makan di restaurant,
setelah itu baru kita pulang
Setelah
sampai di rumahku aku turun dari motor Fakhry
“gk
mampir dulu Khry?”
“gk
usah, udah sore”
“oh
yaudah.”
“hari
senin tunggu aku yah”
“kalau
lama aku tinggalin” kataku
“iya,
aku balik, bye”
“bye”
Setelah
Fakhry menghilang, aku membuka gerbang lalu masuk ke rumah
“Clara
pulang” kataku berjalan ke lantai dua
“koq
pulangnya sore sayang?” tanya bundaku
“kan ke
dufan bun, gk seru dong kalau cuman sebentar”
“oh…
yasudah kamu mandi sana”
“sip
bunda”
****
Hari
senin aku berangkat ke sekolah bersama Fakhry. seperti biasa tiba disekolah
kami menjadi topik hangat gosip pagi ini, tapi aku sudah biasa dengan hal itu
semenjak menjadi kekasih Fakhry. aku memasuki kelasku dan Fakhry berjalan ke
kelasnya
“pagi
semua” sapaku
“pagi
Clara” balas Ryan dan Selda pasangan kekasih yang sangat langgeng –menurut yang
kudengar-
“eh
Vanya mana, koq belum datang?” tanyaku
“dia
sakit!” jawab Selda, aku duduk di kursi Vanya karna Ryan mengambil tempatku
“sakit?
Sakit apa?” tanyaku
“paling
cuman sakit hati karna lihat kedekatan kamu sama Fakhry” kata Ryan
Aku
jadi sedih, aku bahagia diatas kesedihan orang lain, tapi mau bagaimana lagi
aku juga tidak bisa mengingkari bahwa aku sayang dengan Fakhry
Selda
mengelus pundakku
“kamu
gk salah koq. Vanyanya aja yang gk bisa nerima semua ini” kata Selda. Ryan
mengangguk membenarkan kata Selda
Aku
hanya membalasnya dengan senyum tipis
****
Saat
istirahat di kantin sekolah, aku duduk disamping Fakhry. dan Selda duduk
disamping Ryan
“eh
ntar sore aku ama Ryan mau nge-date. Mau double date gk?” tanya Selda.
Aku
menoleh menatap Fakhry
“boleh!”
balas Fakhry, aku tersenyum
“yaudah
kita ketemuannya di rumah aku setelah kalian shalat asar” kata Ryan
“aku
sih tergantung Fakhry soalnya Fakhry tuh LOLA banget” balasku, Selda menahan
tawanya sedangkan Fakhry mencubit lenganku
“aw…
Akhry sakit tahu” kesalku, mengelus lenganku
Fakhry
mendekatkan wajahnya
“jangan
buka aib aku Clara” bisiknya
Aku
memukul pundaknya
“fansmu
gk dengar koq” kataku. Melanjutkan menyeruput teh botol yang ada didepanku
“Fakhry
emang gitu ik, paling takut kalau aibnya kebongkar” kata Ryan
“gk
usah nambahin Yan” geram Fakhry
Aku
hanya terkikik melihat tingkah Fakhry
****
Sore
harinya, kali ini Fakhry tidak telat, melihat perubahannya aku sangat senang.
Sesampai
di rumah Ryan kita langsung saja pergi kemana saja Fakhry mau.. mungkin karna
dia yg paling tua makanya diturutin aja ama kita-kita
Lokasi
pertama, TMII.
“seriusan
kka, mau ketempat ini” tanya Ryan aneh
“iya,
nge-date sekaligus berbaur dengan alam indonesia” kata Fakhry
“kayaknya
aku tahu deh tujuan kamu ketempat ini” balasku
Yang
lain menoleh ke arahku
“untuk
apa?” tanya mereka bertiga
“apalagi
kalau bukan ngenalin suku, ras, budaya bahasa, dan segala keunikan yang ada di
indonesia ke aku” tebakku. Melipat kedua tanganku didepan dada.
Fakhry
tersenyum, lalu merangkulku. Ryan juga merangkul Selda
“tau
aja kamu. Yuk kita lihat budaya indonesia” kami pun mulai berjalan, dari
provinsi satu ke provinsi yang lain.
“Fakhry
benar-benar sudah dewasa” batinku menatapnya dalam lalu kembali fokus pada
pemandangan yang ada. Banyak flora dan fauna yang tersebar di seluruh indonesia
yang perlihatkan di TMII, jujur ini pertama kalinya aku kesini dan ini juga
pertama kalinya aku melihat keunikan Indonesia
Setelah
puas mengelilingi TMII, kita ke lokasi kedua. Mall
“ada
yang mau nonton?” tanyaku
“iya
Ra, kayaknya film hari ini seru!” balas Selda. Aku menatap Fakhry meminta
persetujuan
“ok
kita ke XXI” balas Fakhry.
Kami
pun naik ke lantai 4 dimana XXI berada
Aku dan
Selda menunggu di kedai es krim. Sedangkan Fakhry dan Ryan pergi membeli tiket.
Tak lama kemudian merekapun kembali
“filmnya
masih ada satu jam nih! Jadi mau kemana dulu” tanya Ryan, duduk disamping Selda
dan Fakhry duduk disampingku
“aku
sih terserah Fakhry” kataku.
“yaudah
aku ama Selda, jalan dulu yah. Bye…” pamit Ryan. beranjak dan mengandeng tangan
Selda menjauh dari kedai es krim
Aku terdiam,
menunggu Fakhry mengucapkan kalimatnya
“TimeZone??”
tanyanya. aku mengangguk. Ia pun berdiri, aku juga
“sebenarnya
aku pengen banget narik kamu ke tempat TimeZone berada, tapi karna aku baru 3
minggu disini, dan ini pertama kalinya aku pergi ke Mall. Jadi aku gk bisa
jalan kalau gk kamu tuntun” kataku
Fakhry
tersenyum lalu menarikku, aku tertawa
****
Setelah
40 menit bermain, aku dan Fakhry pun kembali ke XXI karna film akan dimulai 10
menit lagi. Di dekat pintu masuk sudah berdiri Ryan dan Selda. Aku dan Fakhry
menghampiri mereka
“yuk
masuk” ajakku. Mereka mengangguk lalu kami pun masuk
Aku
duduk disebelah kanan Fakhry, di sebelah kananku ada Selda dan Ryan duduk
disampingnya.
Lampu
dimatikan, dan film pun di putar. Filmnya menghanyutkan, membuatku yang memang
mudah tersentuh menjadi menangis, Fakhry menoleh ke arahnya, mengeluarkan
sesuatu dari sakunya dan menghapus air mata di pipiku
“dasar
manja!” ledeknya, aku menatapnya sinis
“emang
salah?” tanyaku kembali fokus pada layar didepanku
“yah gk
sih, tapi kamu lebay”
****
Sudah
setahun aku berpacaran dengan Fakhry, dan sekarang dia bukan lagi siswa SMU
Merak melainkan mahasiswa di universitas, walaupun waktu ku untuk bertemu dia
tidak sesering dulu lagi tapi hubungan kami tetap baik, tapi kepercayaanku itu
tak bertahan lama, Fakhry mengkhianati aku. dan bahkan kali ini aku lebih sakit
lagi daripada saat disakiti oleh seseorang
Aku
melihat itu, dengan mata kepalaku sendiri saat aku ingin menemui Fakhry di
rumahnya. Saat aku melihat gadis itu berdiri disamping Fakhry aku santai saja,
itu hal yang wajar. Dan saat gadis itu mulai merengek pada Fakhry aku sudah
was-was. dan saat Fakhry mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu perasaanku
hancur mataku berkaca-kaca aku terdiam ditempatku, bahkan sudah 20 menit
berlalu Fakhry belum menjauhkan wajahnya dari wajah gadis itu.
“KAMU
JAHAT KHRY!!! BULLSHIT!!! I HATE YOU!! You and Me end!” kesalku pada Fakhry
lalu berlari ke rumahku. Yah layaknya wanita yang lain, aku berharap Fakhry
akan menahan tanganku tapi nihil Fakhry membiarkanku pergi begitu saja
“secepat
itu juga kah cinta harus meningalkanku”
BRUKK!!!
seseorang menabrak ku, samar-samar kulihat wajahnya dan sepertinya wajahnya tak
asing bagiku
“Pardon
me!” mohonnya. Aku menunduk
“No
problem” balasku lalu berlari
“Clara‼”
kudengar ada suara yang memanggilku tapi kuhiraukan, hatiku sedang hancur saat
ini
Luka
lamaku kembali membekas, luka yang pernah dikikis oleh cinta Fakhry sekarang
kembali membekas dihatiku bahkan lebih parah
Sesampai
dirumahku, Coky sedang kedatangan tamu, siapa lagi kalau bukan Milla. Kubiarkan
mereka pacaran, dan aku berjalan ke kamarku dengan menutupi wajah sedihku. Coky
dan Milla sempat heran dengan diriku tapi kubilang aku tidak apa-apa.
Malam
harinya, Coky masuk ke kamarku
“kakak”
“apa”
tanyaku dari balik bantalku
“kakak
kenapa?”
“broken
heart again dek dan dengan kejadian yang sama kayak kak Kevin dulu”
Coky
mendekat ke arahku
“maksud
kakak, kak Fakhry khianatin kakak?” tanya Coky. Aku mengangguk
“keep
smile kak, aku yakin masih ada cowo lain yang bisa benar-benar tulus sayang
sama kakak”
Aku
hanya mengangguk
****
“Ra,
koq ngelamun aja?” tanya Selda.
Aku
mengangkat wajahku menatap Selda
“kamu
kenapa Ra?” tanya Selda lagi
“Fakhry
Sel!”
“iya,
Fakhry kenapa?”
Aku
memeluk Selda
“Fakhry
… dia…”
“hush…
udah, gk usah bicarain sekarang, setelah kamu tenang, baru kamu ceritain sama
aku dan Ryan” aku mengangguk
****
Saat
istirahat di kantin sekolah, aku menceritakan apa yang kulihat kemarin kepada
Ryan dan Selda. Selda kesal dan Ryan sepertinya emosi
Aku
berusaha tersenyum, walaupun berat
“gpp
koq, mungkin ini udah yang terbaik” kataku
“don’t
give up ik, kamu harus semangat. Masih ada koq cowo selain Fakhry” kata Selda
“cowo
kayak dia gk usah di kasih maaf deh Ra” kesal Ryan
“tapi
bagiku Fakhry itu hal terindah yang pernah kumiliki”
“ik,
untuk apa memiliki hal terindah tapi dia tidak bisa selalu indah di hidupmu”
“berat
lupain dia Yan”
“belajarlah
mulai dari sekarang Ra”
Aku
hanya mengangguk menerima masukan dari temanku
“hei
semua” sapa seseorang mendekat ke meja kami
“hai
Vanya” kata Selda. Vanya duduk disampingku
“Clara
kamu kenapa?” tanya Vanya
“dia
lagi sakit hati Van” jawab Ryan
“sakit
hati?”
“iya”
“emangnya
Clara kenapa?”
“Fakhry
selingkuh”
“och”
Vanya
mengelus pundakku
“yang
sabar yah Ra”
****
dua
hari kemudian, aku melihat Vanya datang di antar oleh seseorang, aku kenal
motor itu. Satria Blue milik Fakhry
“apa
Vanya dan Fakhry …??” batinku
“pagi
Ra” sapa Vanya
“pagi”
balasku
“kamu
mau kekelas”
“iya”
“yaudah
bareng yuk”
Kami
pun jalan berdua ke kelas
“hm…
Van sekarang kamu ama kak Fakhry udah deket yah?” tanyaku pura-pura bahagia
“iya,
bahkan aku udah jadian ama kak Fakhry”
“what?
Jadian? Ini baru tiga hari setelah aku dan Fakhry putus” batinku
“hm..
selamat yah.. udah berapa lama nih?”
“baru
juga kemarin”
“och.
Semoga kalian langgeng”
“pasti
Ra”
Ini
benar-benar menyesakkan. Tiga hari yang lalu Fakhry yang dulunya kekasihku
menjadi mantanku dan Vanya sahabatku jadian dengan mantanku tepat dua hari
setelah aku putus dengannya
“secepat
itukah aku tergantikan?”
****
Bagi
Fakhry mungkin aku bukan siapa-siapa tapi bagiku Fakhry adalah hal terindah
yang pernah kumiliki. Hal terindah yang pernah kuinginkan. Hal terindah yang
pernah kurasakan. Hal terindah yang pernah kudambakan. Hal terindah yang pernah
kudapatkan. dan Fakhry dihatiku takkan pernah terganti
****
1
minggu kemudian…
Di
kantin sekolah. Seorang yang sangat mirip dengan Fakhry memasuki kantin, dan
aku mengenali dirinya
“Kevin?”
batinku
“tapi
kenapa dia ada disini? dia kan ada di Perth” batinku
“huahh
Clara aku diputusin sama Fakhry” keluh Vanya. aku menoleh
“apa?
Kamu putus sama Fakhry?” tanyaku
Vanya
mengangguk sedih
“dasar
cowo brengsek” umpat Ryan
“pasti
Fakhry punya alasan lain” batinku
“kalian
kan baru jadian seminggu yang lalu” tanya Selda
“aku gk
tahu apa masalahnya sampai Fakhry tega mainin perasaan aku kayak gini, tanpa
alasan yang jelas dia langsung aja nelpon aku dan bilang kalau aku udah gk ada
hubungan apa-apa lagi sama dia”
“dia
emang cowo BULLSHIT” Selda ikut-ikutan mengumpat sedangkan aku kembali teringat
pada wajah baru yang masuk ke kantin tadi”
“yaudah
kamu yang sabar Van, cowo gk cuman Fakhry aja koq” balasku
“eh
Sel, hari ini ada murid baru yah” tanyaku mengacuhkan kesedihan Vanya
“ah iya
Ra, mukanya mirip ama Fakhry. pindahan dari perth” jelas Selda
“dia di
kelas berapa?”
“XII.
Ipa-2”
“namanya
Kevin yah?” tanyaku
“aku
juga kurang tahu sih. Soalnya cuman dengar anak-anak yang ngomongin di koridor
tadi”
“och…”
“Kevin.
What are you doing here?”
****
Malam
harinya aku dihantui rasa penasaran tentang murid baru itu. Aku tahu wajah yang
tadi itu, itu adalah Kevin, tapi untuk apa dia datang ke indonesia, lama aku
melamun hingga sebuah benda membentur kaca jendelaku. Akupun berjalan ke
jendala, membuka jendela. dan mengambil benda itu
“pesawat
dari kertas? Fakhry?” batinku, lalu membuka kertas itu
Malam
Clara, aku kangen sama kamu. Plis keluar sebentar aku mau bicara empat mata
sama kamu
Aku mau
jelasin soal yang dulu itu, kamu cuman salah paham koq Ra
Aku
juga gk niat pacaran sama Vanya, itu cuman Vanya aja yang nembak aku, dan karna
Vanya nembak aku saat keadaan aku sangat sedih karna harus kehilangan kamu, aku
jadi asal-asalan jawabnya
Aku
kembali ke dalam, mengambil sebuah polpen dan kertas
Kenapa
baru sekarang kamu berani meminta maaf
Setelah
aku menulis kalimat di kertas itu, aku lalu melipatnya membentuk sebuah pesawat
lalu kembali ke jendela dan melemparnya ke arah Fakhry
Tak
lama kemudian sebuah pesawat kertas mendarat disampingku
Karna
baru saat ini aku menemukan cara yang tepat untuk meminta maaf padamu setelah
aku merenung selama seminggu ini
Lebih
baik kamu pergi dari rumahku, karna saat ini aku tak ingin mendengar apapun
dari kamu
Ra, aku
masih sayang sama kamu
BULLSHIT!!!
****
Hari
ini hari sabtu. Artinya sekolah libur. Kulihat Coky sudah bersiap-siap jalan
dengan Milla sedangkan Ciko dia masih asyik dengan mimpinya
“Ky,
kakak mau tanya sama kamu?”
“tanya
tentang apa kak?”
Aku
duduk disamping Coky
“menurutmu
kakak harus kasih kesempatan kedua gk untuk kak Fakhry?” tanyaku
Coky
menatapku
“apa
waktu kak Kevin nyakitin kakak, kakak kasih kak Kevin kesempatan kedua?”
tanyanya balik
“yah gk
sih, tapi Fakhry ini dia itu hal terindah dalam hidup kakak”
“yaudah
kakak pikir dari hati kakak, apa yang harus kakak putuskan, soalnya Coky
buru-buru. Kasihan kalau Milla harus nunggu lama” pamit Coky menteng sweater
“kamu
hati-hati” pesanku
“sip
kak” balasnya lalu keluar.
Aku
menyandarkan kepalaku
“apa
aku harus belajar lupain kamu Khry?” batinku
****
Keesokan
harinya saat pulang sekolah aku menunggu Ciko untuk menjemputku
“aduh
Ciko lama banget sih!” kesalku.
“hai,
what are you doing here?” tanya seseorang
“waiting
my younger brother” balasku lalu menoleh
“Kevin?”
tanyaku heran
“masih
ingat, aku fikir kamu sudah lupa denganku” balasnya
“apa
yang kamu kerjakan di jakarta”
“aku
sedang mencari seseorang yang bernama Clara”
“untuk
apa kamu mencarinya?”
“aku
hanya mau minta maaf”
“tidak
ada kata maaf untuk orang sepertimu”
“terserah
tapi kamu tahu sendirikan itu sudah kebiasaan aku, memberikan kepada gadis yang
butuh itu atau kamu baru mau memaafkan aku setelah aku kasih itu juga ke kamu”
Kevin
meraih tanganku, mengangkat daguku dan mendekatkan wajahnya
Aku
tediam sesaat lalu tersadar
“aku gk
butuh. Aku bukan cewe murahan kayak mereka”
Aku
mendorong wajah Kevin dan menghempaskan tangan Kevin lalu berjalan menjauh
darinya
“Ra,
please forgive me” mohon Kevin
“never”
Kevin
menahan lenganku, membalikkan badanku dan menatap mataku
“Ra,
kenapa kamu gk bisa maafin aku”
“karna
aku udah punya seseorang yang lebih baik dari kamu” bohongku
“apa
dia pernah kasih kamu first kiss”
“apa
sih urusan kamu Vin, lepasin tangan aku” aku berusaha melepaskan tanganku dari
cengkraman Kevin. Tapi tangan Kevin sangat keras
“Kevin
lepasin aku!” bentakku, Kevin hanya memperkeras cengkramannya dan kembali
mengangkat wajahku, aku berusaha memalingkan wajahku
“Ra
lihat aku” perintahnya
“aku gk
mau”
“woy
lepasin gk cewe itu” teriak seseorang. Aku dan Kevin menoleh
“Fakhry”
batinku
Fakhry
mendekat, Kevin pun menarikku untuk berdiri dibelakangnya
“lepasin
gk cewe itu” perintah Fakhry
“kalau
aku gk mau apa urusan kamu”
“itu
artinya kamu cari masalah sama aku”
Tanpa
basa basi Fakhry menarik kerah baju alvin
“lepasin
gk, dia kesakitan. Kamu ngerti gk sih” bentak Fakhry
Kevin
melepaskan cengkramannya aku pun menjauh sambil memegangi tangannya yang
kesakitan
Kevin
memegang tangan Fakhry
“hei
jangan gitu, kita bisa bicarain dengan cara baik-baik”
Fakhry
pun melepas tangannya dari kerah baju Kevin, seketika Kevin melepaskan tinjunya
“Fakhry”
pekik Clara. Fakhry mengangkat wajahnya
“kamu
jangan sok pahlawan yah” kata Kevin
Fakhry
membalas tindakan Kevin tadi
“Fakhry
udah” teriakku berlari ke arah Fakhry.
Kevin
tak berhenti memukuli Fakhry, begitupun Fakhry yang tak mau kalah dengan Kevin
Aku
menahan lengan Kevin
“Kevin
udah jangan sakitin dia” mohonku, tapi tak di respon oleh Kevin. Kevin malah
mendorongku ke jalan raya
Titt..tittt…
terdengar suara klakson mobil aku panik berusaha berdiri
“Clara
awas” teriak Fakhry berlari ke arah ku dan mendorong ku ke sebrang jalan
Dan……
“brukkk”
Fakhry lah yang tertabrak mobil itu. Saat Fakhry sudah tergeletak di aspal
dengan kepala yang berlumuran darah mobil itu langsung pergi
Kevin
terdiam tubuhnya bergetar
“kenapa
dia yang harus terluka, harusnya aku, aku yang mendorong Clara ke jalan, tapi
kenapa aku tidak menyelamatkan Clara. kenapa harus dia. Apa seperti inikah
cinta yang tulus, rela mati demi orang yang ia sayangi”
Aku
memangku kepala Fakhry dan menghapus darah yang mengalir
“Fakhry
buka mata kamu, bilang kalau kamu gpp” pintaku
“Clara”
lirih cakka
Aku
tersenyum
“Fakhry,
aku senang bisa lihat kamu lagi, aku senang bisa ada didekat kamu lagi”
Fakhry
menghapus air mata di pipiku
“aku
juga tapi kamu jangan nangis, aku gk mau lihat air mata kamu jatuh”
“Khry,
kenapa kamu lakuin ini, kenapa kamu harus nolongin aku. Harusnya tadi kamu
biarin aku ketabrak ama mobil itu”
Fakhry
menggeleng
“gk Ra,
itu gk boleh terjadi. Aku sayang sama kamu dan aku gk mau kehilangan
kamu”
“tapi
aku juga… aku juga masih sayang sama kamu dan aku juga gk mau kehilangan kamu”
Fakhry
tersenyum
“aku
sayang kamu Ra” tutur Fakhry. matanya pun mulai tertutup
“FAKHRY!!!”
teriakku sambil memeluk Fakhry
“Fakhry
bangun” pintaku, tapi itu mustahil Fakhry sudah pergi meninggalkanku
****
1
minggu sudah berlalu semenjak kepergian Fakhry, kepergian Fakhry itu merupakan
hal terburuk yang pernah dialami Clara. Kevin sendiri merasa bersalah karna
telah membuat orang yang ia sayangi bersedih
“kakak
ngapain kesini?” tanya Coky saat membukakan pintu untuk Kevin
“kakak
hanya ingin meminta maaf pada Clara”
“gk
ada. Sekarang kak Clara udah benci banget ama kakak. sana pergi” usir Coky
menutup pintu tapi ditahan oleh Kevin
“Coky
kakak mohon, kakak mau minta maaf ke Clara. kakak tahu selama ini kakak salah,
jadi tolong kasih kakak kesempatan kedua”
Coky
tampak berpikir
“gk ada
salahnya percaya sama dia, kalau dia berani nyakitin kakakku lagi, gk akan ada
maaf”
“tapi
kakak ingat ini kesempatan terakhir kakak, kalau kakak nyakitin kak Clara lagi,
kakak jangan harap bisa ngelihat wajah kak Clara lagi. Paham!” kata Coky
Kevin
mengangguk
“kakak
janji”
Coky
menyingkir dari ambang pintu
“kak
Clara ada di kamarnya, di lantai dua” kata Coky lalu pergi
****
“Ra,
plis maafin aku” mohon Kevin
“apa
dengan kata maaf kamu bisa balikin Fakhry”
“Clara,
aku tahu aku gk mungkin buat Fakhry hidup kembali, tapi dia udah pergi,
tolonglah lupain yang udah gk ada”
“Vin,
kenapa sih kamu tuh jahat banget sama aku?”
“Ra aku
gk jahat, aku sayang sama kamu dan kali ini aku janji, aku akan balas semua
kesalahanku. Jadi tolong maafin aku dan terima aku lagi jadi kekasih kamu”
“gk,
aku benci ama kamu”
Clara
meninggalkan kelas
****
Kantin
SMU Merak
“Ra, lo
napa ngelamun mulu” tanya Vanya
“Ra,
kalau tentang Fakhry udah jangan sedih terus, coba deh kamu belajar ikhlasin
dia”
Clara
menggeleng
“bukan
karna Fakhry koq aku kayak gini”
“terus
karna apa?” tanya Ryan
“Kevin”
“what?
Kevin?” tanya ketiganya serempak (Selda, Ryan, Vanya)
Clara
mengangguk
“anak
kelas XII. Ipa-2 itu” tanya ketiganya lagi
Clara
kembali mengangguk
“jangan
bilang kalau dia…” tanya Vanya mengantungkan kalimatnya
“dia
itu mantan aku, dan sekarang dia minta balikan”
“apa?
Cowo itu mantan Clara! kenapa dia beruntung banget, udah dapat Fakhry, sekarang
mantannya ngajakin balikan” batin Vanya
“kalau
kamu masih sayang sama dia, kamu terima aja lagi” saran Selda
“tapi
Sel, aku tuh cuman bisa nyimpen nama Fakhry di hatiku, sulit menghapusnya”
Selda
menepuk bahu Clara
“kalau
gitu kamu bicara yang baik ama dia dan bilang kalau kamu udah gk mau jadi
cewenya” kata Selda
“atau
kasih dia pilihan Ra, sahabat atau sama sekali gk” tambah Ryan
“yaudah
aku akan coba. Makasih yah teman”
“sama-sama
Ra”
****
Bel
pulang sekolah, Kevin kembali mencoba meminta maaf pada Clara. Ia pun segera
pergi ke kelas Clara
“Ra,
gimana jawaban kamu udah berubah” tanya Kevin duduk disamping Clara. Clara
mengubah posisi duduknya menghadap ke Kevin
“apa
sih mau kamu?” tanya Clara jutek
Kevin
tersenyum, manis sekali, membuat Clara kaku dan merasa aneh berada di dekat
Kevin
Kevin
meraih kedua tangan Clara
“Ra,
aku mohon maafin aku, aku janji gk akan nyakitin kamu lagi. Yah, maukan jadi
pacar aku lagi”
Clara
menggeleng, melepas tangan Kevin
“gk
perlu sejauh itu Vin untuk membuat aku percaya kalau kamu udah berubah. Aku mau
kamu jadi sahabat aku, mungkin dengan menjadi sahabatku kau bisa lebih baik
dari yang dulu” kata Clara beranjak, mencangklong tasnya dan mulai berjalan.
Kevin
terdiam sesaat lalu mengejar Clara
Menahan
lengan Clara dan membalikkan badan Clara
CUP!!!
Sebuah kecupan manis mendarat mulus di kening Clara
“makasih,
sebagai sahabatpun aku terima koq” kata Kevin. Clara terdiam sambil menganga
Kevin
menarik tangannya untuk segera pergi meninggalkan sekolah
****
Sebelum
mengantar Clara pulang ke rumahnya Kevin sengaja mengajak Clara makan siang
“ini
mbak, mas, silahkan” kata pelayan itu sambil meletakkan pesanan Kevin dan Clara
di meja
“makasih
yah mbak” balas Clara. Pelayan itu tersenyum lalu pergi.
“Clara”
panggil Kevin.
“apa”
“a”
perintah Kevin
“hih
Kevin aku bisa sendiri tau”
“udah buka
mulut kamu a..” kata Kevin, Clara lalu membuka mulutnya
“sekarang
gantian ah” kata Clara lalu menyuapi Kevin, tapi Clara bukannya mengarahkan sendoknya
ke mulut Kevin melainkan ke pipi Kevin jadinya pipi Kevin belepotan deh
“hih
Clara rese deh, gantian aku ih” sekarang gantian pipi Clara yang belepotan. Dan
sekarang mereka itu bukannya makan malah main-mainin makanan mereka, Dan
alhasil muka mereka pada kotor. Clara lalu mengambil tissue yang memang
disediakan di meja itu, lalu dia bersihkan semua kotoran di pipinya, lalu
membersihkan pipi Kevin. Saat Clara ingin membersihkan makanan yang ada di
bibir Kevin, tangan Kevin menahan lengan Clara, lalu mata mereka saling bertemu
sangat lama sampai mereka berdua melamun. Clara lalu tersenyum. Akhirnya mereka
pun tersadar dari lamunannya. Kevin pun melepas lengan Clara, Clara juga sudah
tidak membersihkan sisa makanan di bibir Kevin
“hehehe”
Kevin nyengir sambil menggaruk bagian belakang kepalanya yang gk gatal
“maaf”
kata Clara sambil menunduk, karna dia merasakan wajahnya mulai memerah
“ini,
bersihin tuh bibir kamu” lanjut Clara sambil menyerahkan tissue ke Kevin tanpa
mendongakkan kepalanya
“makasih”
balas Kevin sambil tersenyum
****
Mungkin
Fakhry adalah hal terindah dalam hidup Clara, tapi ternyata didalam hati Clara
tetap saja Kevin lah hal terindah yang pernah dimilikinya. Walaupun dulu Kevin
pernah menyakitinya tapi Kevin sudah membayar lunas kesalahannya. Memberikan
yang terbaik untuk Clara hingga Clara mampu menghapus nama Fakhry di hatinya
dan menggantikannya dengan nama Kevin
Sampai saat ini rasaku
bertahan disini, Rasa yang tak akan hilang oleh waktu
Kau tidak disini, Aku pun
tiada di hatimu
Jiwaku ikut menghilang
bersamamu
Tak terkira disampingmu
Adalah hal terindah yang
pernah kuinginkan
Tak terkira dipelukmu
Adalah hal terindah yang
pernah kurasakan
Kau tidak disini
Aku pun tiada di hatimu
Jiwaku ikut menghilang
bersamamu
Melukiskan segenap
keindahan..dirimu
Hanya kau yang aku
mau..kamu..kamu
Tak terkira disampingmu
Adalah hal terindah yang
pernah kuinginkan
Tak terkira dipelukmu
Adalah hal terindah yang
pernah kurasakan
Tak terkira
milikimu
Adalah hal terindah yang
pernah kudambakan
Tak terkira dekapanmu
Adalah hal terindah yang
pernah kudapatkan
Tak kan rela melepasmu
Walau dihadapanmu ku kan
terus menangis..bahagia
*_* THE END *_^
Komentar
Posting Komentar