HAL TERINDAH



“huft… capek banget” keluhku lalu menjatuhkan tubuhku ke ranjang
“new home, new neighbour, new school, new friends and hm.. new boy yang mampu mengikis luka di hatiku. Aku mau tahu anak-anak jakarta itu gimana sih soalnya dah lama gk ke kota ini”
“kakak” aku dengar suara adikku memanggilku aku pun bangun
“what’s up?” tanyaku. Adikku lalu masuk ke kamarku
“nih, kakak disuruh ama bunda antar ke tetangga baru kita” adikku memberiku kotak makanan yang cukup besar
“ah kakak ngantuk kamu aja yah”
“BUNDA!!!!”
“wah gaswat nih kalau nih kutu mengadu sama bunda” aku segera mengubah posisiku dan berlari ke arahnya
“yaudah sini. dasar tukang ngadu”
Aku merebut kotak makanan itu lalu pergi ke rumah tetangga baruku. Setelah itu aku kembali ke rumah

****

Aku belum kenalan yah? Kalau begitu kenalkan namaku Clara Micely Angelina cukup panggil aku Clara. Aku sebenarnya tinggal di  Perth tapi karna ayahku ingin tinggal selamanya di Indonesia tepatnya di Jakarta terpaksa aku harus ikut dengan orang tuaku ke Jakarta. Aku anak sulung dari tiga bersaudara. Adik pertamaku bernama Muhammad Coky panggil aja Coky, dia duduk di kelas IX. Adik keduaku bernama Muhammad Ciko panggil aja Ciko. Dia masih SD kelas 6. Ok sekian perkenalanku karna tak ada hal terindah dalam hidupku selain mereka, sebenarnya dulu sih aku punya, tapi sekarang gk lagi, dia nyakitin aku tepat ketika aku ingin pergi ke jakarta

****

Keesokan harinya ini hari pertamaku sekolah di SMU Merak. Siswanya cukup ramah, seperti saat isitirahat salah satu teman baruku Vanya dan Selda, mereka mengajakku ke kantin bersama. Aku jadi betah bersekolah ditempat ini
Sore hari aku mulai bersosialisasi dengan tetangga baruku. Aku dan adikku, Coky pergi ke lapangan yang tak jauh dari rumah, saat sore disana banyak anak seumuranku dan Coky. Coky bermain futsal. Sedangkan aku bermain voli
“hei, kamu orang baru yah” tanya salah seorang anak gadis yang agak tomboy. Aku mengangguk
“iya, kenalkan namaku Clara” jawabku mengulurkan tanganku
Ia membalas uluran tanganku
“Lani, senang berkenalan dengan kamu”
Lama bermain akhirnya aku lelah juga
“wah ternyata kamu hebat juga Cla”
“ah jangan begitu. Cuman kebetulan”
“kak balik yuk udah sore” ajak Coky yang sudah berada disampingku
“iya nih.. Lani aku balik dulu yah. Besok kita main lagi”
“sip” balas Lani
Aku merangkul coky lalu berjalan. Tepat saat aku melewati lapangan basket seorang laki-laki menoleh ke arahku lalu tersenyum manis
“ng.. dia siapa? Wajahnya gk beda jauh dengan yang di perth” batinku lalu membalas senyumnya setelah itu aku memalingkan wajahku
“kayaknya aku gk punya teman yang tinggal di jakarta deh… dasar cowo SKSD” batinku

****

dan seperti hari sebelumnya saat aku pulang laki-laki itu pasti tersenyum padaku… hingga hari ini ia mengajakku berkenalan
aku sedang istirahat dan memilih duduk dibawah pohon, dia pun datang dan duduk disampingku
“hai, kenalkan namaku Fakhry, aku tinggal di blok B. kalau kamu??” tanyanya sambil mengulurkan tangannya. Aku tersenyum lalu membalas uluran tangannya
“Clara, aku juga tinggal di blok B”
“oh iya,, kamu orang baru yah disini”
“iya, baru seminggu yang lalu”
“kamu pindahan darimana?” tanyanya
“dari perth”
“hm… kamu lancar berbahasa indonesia”
“memang, aku lahir di indonesia tapi saat umurku 6 tahun aku pindah ke perth dan sekarang kembali lagi ke indonesia”
“kalau boleh tau rumah kamu no berapa?”
“no 9. Kamu?”
“kalau aku no 12. Kamu sekolah dimana”
“cowo ini banyak nanya banget” batinku
“SMU Merak”
“aku juga sekolah disitu. Memangnya kamu kelas berapa koq aku gk pernah lihat kamu”
“aku kelas XI. Ipa-A. kamu??”
“aku XII. Ipa-A. ternyata kamu adik kelas aku yah”
“aku sih udah ngira kamu kakak kelas aku karna kelihatan dari muka kamu, lebih tua dari aku” aku pun memulai candaku
“ih, dasar kamu yah” cakka mencubit pipiku
“cakka sakit tahu”
“habis muka kamu ngegemesin”

****

Dan kini aku sudah tahu bahwa cowo yang pernah ku anggap sebagai cowo SKSD itu ternyata cowo yang baik, menyenangkan, dan bisa mencuri hatiku.. hahaha….
Semenjak perkenalan itu, setiap hari Fakhry datang ke rumahku dengan berbagai alasan, membuat Coky selalu meledekku ketika malam hari. Tapi aku senang. Terlebih lagi saat Fakhry mengajakku pergi bersama ke lapangan. Betapa bahagianya aku
Disekolah berbeda dengan di rumah. Di sekolah aku tak pernah berani mencari tahu tentang ‘Kak’ Fakhry, karena aku dengar dari Vanya kalau dia adalah most wanted di SMU Merak, terlebih lagi dia adalah seorang ketua osis, ketua tim basket, dan siswa berprestasi, jadi aku tak berani untuk mendekatinya di sekolah lebih tepatnya tak berani menampakkan diriku padanya. Setiap aku melihat dia aku segera berlari menjauh agar dia tak melihatku dan memanggilku, bukannya GR tapi Fakhry memang orang seperti itu, lihat saja kalau sore hari di lapangan, aku baru saja datang dia sudah meneriaki aku dan menyodori aku minum.
Tapi sayang usahaku untuk bersembunyi gagal, hari ini tepat saat bel pulang berbunyi Fakhry sudah berdiri di dekat pintu kelasku. Membuat para cewe berhenti dan memberi pertanyaan konyol pada Fakhry
“kak nungguin siapa?”
“kakak mau jemput aku yah?”
“kak aku udah mau balik nih. Yuk?”
“kak cakka mau balik bareng aku. Iya kan kak?”
“Aku!!!”
“AKU!!!”
Didalam kelas aku hanya geleng-geleng kepala melihat teman sekelasku bertanya seperti itu. Vanya yang masih berdiri didekatku pun menoleh
“ini pertama kalinya kak Fakhry berdiri didekat pintu kelas XI” kata Vanya lalu keluar
“waw…  demi siapa tuh Fakhry berani nangkrik didekat pintu” batinku sedikit tertawa
“minggir semua gw mau lewat. Ini kan bukan jalan nenek moyang lo semua” kata Vanya menerobos cewe yang berdiri di ambang pintu lalu berdiri didekat Fakhry
“hai kak, tumben kesini! Ngapain?” tanya Vanya
“ng. hai.. kakak lagi nyari seseorang! Bener kan ini kelas IX.Ipa-A” tanya Fakhry balik
Vanya mengangguk. Fakhry pun menoleh kedalam, aku bersembunyi di bawah meja guru
“memangnya siapa yang kakak cari?” tanya Vanya
“Clara! kakak belum pernah lihat dia keluar berarti dia masih ada didalam kan?”
Vanya terlihat kesal ia pun menoleh kedalam diikuti oleh Fakhry dan tak menemukan aku.
Aku berhenti menguping pembicaraan mereka dan terus berharap bahwa Fakhry segera pergi. beberapa menit kemudian aku menoleh ke ambang pintu
“hufft.. udah sepi, syukurlah. Artinya Fakhry udah pergi” aku pun keluar dari bawah meja
“HAYOO!! Ngapain disitu” seseorang mengagetkan aku, membuat aku tersentak dan kepalaku kepentok meja
“aw…” rintih sambil memegangi puncak kepalaku
“hahahaha” orang itu tertawa tanpa rasa bersalah
Aku keluar dari bawah meja dengan wajah cemberut
“ih Fakhry jahat banget sih” aku ngambek dan berjalan keluar
Fakhry menghentikan tawanya dan mengejarku
“yee Clara ngambek. Sorry deh”
Aku tak menghiraukan perkataan Fakhry dan terus berjalan keluar dari sekolah
“Clara, sebagai permintaan maaf ku aku anterin kamu pulang yah”
Aku masih diam.. terserah dia mau mengomel apa di belakang. Peduli amat, kepala ku udah sakit gara-gara dia
Fakhry menahan tanganku dan memutar badanku ke arahnya
“maafin aku Ra”
“no” tegasku
“yah Clara koq gitu”
“salah sendiri kenapa bikin aku kaget”
“kamu sih kenapa pake acara sembunyi di bawah meja”
“karna aku tahu kamu itu most wanted boy disekolah, kamu tahu gk sih, jadi seorang sahabat selebriti itu sulit, pasti selalu jadi topik pembicaraan bagi seluruh siswa. Apalagi aku baru seminggu sekolah disini”
Fakhry menatapku membuatku semakin gugup
“kamu pernah alami itu”
Jederr!
“aduh! Kenapa Fakhry harus bertanya sepert itu sih”
“lepasin tangan aku” aku mengalihkan pertanyaan Fakhry dan berusaha melepaskan tanganku
“gk akan aku lepasin sebelum kamu jawab”
“apasih, kamu gk pernah nanya deh”
“apa di sekolah kamu yang dulu  kamu pernah pacaran dengan seorang selebriti sekolah”
“never! Sekarang lepasin tangan aku”
“kalau gitu kamu gk boleh sembunyi dari aku saat di sekolah, aku mau satu sekolah tahu kalau aku dekat dengan kamu”
“kalau itu mau kamu, lebih baik kita gk usah kenal” aku sudah terlampau kesal, aku pun berhasil melepaskan tangan Fakhry yang memegangi tanganku
“apa sih Ra salahnya, kamu berhak berteman dengan siapapun, jadi mereka mau bilang apa terserah mereka tapi kamu harus tetap jadi sahabat aku”
“au ah gelap!!”
“huh Fakhry nyebelin banget sih” kesalku
Sesampai di gerbang aku memilih untuk duduk di bawah pohon rindang sembari menunggu Coky
Lama aku menunggu, Fakhry belum juga terlihat melewati gerbang, aku menoleh ke parkiran motornya masih dengan indah bertengger disana
“Coky mana lagi, lama banget jemputnya. Jangan-jangan tuh anak jalan dulu ama cewenya, awas aja kalau iya aku laporin ama bunda”
Tiba-tiba sebuah motor Satria Purple berhenti didepanku
“bareng aku aja, Coky gk bakal datang”
“sok tahu”
“bukannya sok tahu tapi aku yang nyuruh Coky agar dia gk datang jemput kamu”
Aku menghentakkan kakiku
“ih Fakhry nyebelin banget sih kamu”
“aku gk akan nyebelin kalau kamu mau maafin aku”
“no”
“aku janji Ra, kalau kamu maafin aku. Aku gk akan kayak tadi, nungguin kamu didekat pintu kelas. Asal kamu mau berangkat dan pulang bareng aku”
“tawaran Fakhry cukup menarik, kan Coky juga gk repot” batinku
“yah Ra maukan maafin aku”
“tapi janji! Jangan kayak tadi. Kamu cuman boleh jemput dan antar aku pulang” tanyaku.
Fakhry mengangguk
“janji”
Aku memukul tangan Fakhry lalu naik ke jok belakang motor Fakhry
“aw…” rintihnya setelah itu ia tertawa
“gitu dunk ik. Kan manis kalau gk lagi marah”
“udah jangan banyak gombal. Buruan!!!” balasku. Fakhry pun menggas motornya
“HUAAA FAKHRY!!!!” aku berteriak karna Fakhry yang gk kira-kira melajukan motornya dengan kecepatan tinggi
Dengan sungguh sangat terpaksa aku memeluk pingganggnya

****

Malam ini aku sedang belajar didalam kamarku, lalu sebuah benda membentur kaca jendelaku. Akupun berjalan ke jendala, membuka jendela. dan mengambil benda itu
“pesawat dari kertas” batinku, lalu membuka kertas itu
Malam Clara, aku kangen sama kamu
“siapa sih yang iseng kayak gini” aku mengedarkan pandanganku ke sudut jalan yang ada didepanku. dan kulihat seseorang melambai di depan gerbang rumahku
“Fakhry??” gumamku.
Fakhry menyuruhku untuk turun ke bawah aku lalu melihat ke sekitar berharap bahwa kedua orang tuaku juga kedua adikku sudah tertidur pulas. Tapi kulihat lampu kamar Coky masih menyala. Aku pun kembali ke dalam, mengambil sebuah polpen dan kertas
Aku gk bisa turun Coky masih tidur kalau dia ngelapor ama bunda, bisa gawat
Setelah aku menulis kalimat di kertas itu, aku lalu melipatnya membentuk sebuah pesawat lalu kembali ke jendela dan melemparnya ke arah Fakhry 
Tak lama kemudian sebuah pesawat kertas mendarat disampingku yang sedang duduk disamping jendelaku.
Aku membuka kertas tersebut
Padahal aku pengen banget ketemu kamu, dengar suara kamu, lihat mata indah kamu.
Karna aku gk bisa tidur gara-gara mikirin kamu
Blushh…. Wajahku mungkin memerah, aku merasakan rasa panas itu menjalar di wajahku
Aku pun mulai menulis di kertas yang baru
Dasar gombal kamu, emang kamu gitu yah sama semua cewe kamu
Setelah selesai menulis kulipat kertas itu lalu ku luncurkan ke arah cakka
Satu pesawat kertas kembali mendarat disampingku
Ini pertama kalinya aku dekat sama cewe
“what? Dia pasti bohong, masa’ cowo cakep kayak dia gk pernah dekat ama cewe sebelum aku?” batinku tak percaya
Bullshit‼ aku gk percaya tuh

And then, malam itu aku lalui bersama Fakhry melalu surat pesawat kertas itu (?)
Malam itu terasa indah bagiku, apalagi mendapat pengakuan dari Fakhry bahwa ia benar-benar belum pernah pacaran. Yah, aku benar-benar jatuh cinta pada Fakhry, pada pandangan kedua, karna saat pertama kali bertemu, aku sangat jengkel melihatnya

****

Hari terus berlalu, dan hari-hari ku kini kulalui dengan kebahagiaan bersama Fakhry, membuatku melupakan luka yang pernah aku alami di sekolah lamaku, ternyata tidak semua cowo yang tampangnya berada di chart tertinggi di tingkat sekolah itu tak setia. Contohnya Fakhry, sudah seminggu ini aku berpacaran dengan dia, dan aku lihat dia masih setia denganku, atau mungkin karna masih seminggu, tapi aku harap ini bertahan lama, tak seperti sewaktu di sekolah lamaku baru sebulan aku merasakan manisnya cinta aku harus mengecap pahitnya di sakiti.
Tapi selama aku jadian dengan Fakhry, ada yang aneh dengan Vanya. dia menjauh dariku, bahkan semakin menjauh. Dulu dia adalah teman sebangku ku sekarang bukan lagi. Sekarang aku sudah duduk di bangku belakang Vanya, yah itu permintaannya. Aku sendiri bingung apa alasannya dia jadi menjauhiku seperti itu, jika aku tanya dia hanya terdiam, membuatku semakin tak mengerti dengan sifatnya
“Sel, tau gk Vanya kenapa jadi kayak gitu” tanyaku pada Selda yang sekarang jadi teman sebangkuku
“yang aku tahu sih dia seperti itu sejak kamu jadian ama kak Fakhry. mungkin dia marah sama kamu” jawab Selda
“marah sama aku?”
“iya, selama ini kan Vanya suka sama kak Fakhry, tapi kak Fakhry gk pernah tuh anggapin perasaan dia”
“och gitu yah”
“tapi Ra kamu gk salah koq, itu hak kamu jadian ama kak Fakhry, Vanyanya aja yang egois” Selda mengelus pundakku
Aku hanya mengangguk dan sedikit tersenyum
“kalau aku jadian dengan Fakhry apa harus Vanya menjauh pasti ada alasan lain” batin Clara

****

Sore ini aku dan Coky pergi ke lapangan. sebelum bermain, aku duduk disamping Fakry
“Khry, kamu tau gk sih, selama kita pacaran tuh Vanya menjauh dari aku”
“memangnya kalian ada masalah”
“nah itu dia yang semakin bikin aku bertanya-tanya, karna setiap aku tanya sama dia ada masalah apa, dia hanya diam”
Fakhry merangkulku
“sudahlah, mungkin dia ngiri sama kamu”
“aku? Buat apa coba ngiri sama aku, aku kan bukan siapa-siapa”
“hei kamu itu pintar apalagi sekarang kamu pacar ketua osis yang super duper keren ini”
Aku menunduk, menahan tawaku
“hahaha kamu terlalu narsis Fakhry”
“tapi itu benar bukan?”
“terserah kamu, aku mau main sama Lani” kataku melepas tangan Fakhry dan menghampiri Lani yang sudah stand by di lapangan voli

****

Bersama Fakhry hari-hariku selalu bahagia. Seolah didunia ini hanya ada aku dan dia, setiap hari Fakhry kerumahku, setiap malam dia mendongeng lewat ponsel. Aku sungguh bahagia menjadi pacar Fakhry, dengan Fakhry lukaku terkikis bahkan sekarang sudah menghilang, aku sudah melupakan pahitnya masa laluku bersama orang sebelum Fakhry
Pagi ini cakka menjemputku untuk pergi kesekolah bersama
“bunda aku pergi dulu yah” pamitku lalu menyalami tangan bundaku
“pergi dulu tante” pamit Fakhry juga menyalami tangan bundaku
“kalian hati-hati yah” pesan bunda. Aku dan Fakhry hanya mengangguk
Setelah Fakhry naik ke motornya aku segera naik dan Fakhry pun melaju ke sekolah
“Ra” panggil Fakhry
“apa?” tanyaku
“gpp, cuman miscall, siapa tahu kamu ketinggalan”
“kamu ini, udah gk usah miscall nanti kalau dengar suara lembut aku, kamu bisa gk konsentrasi”
“wah kamu udah mulai narsis nih”
“gk tau nih, tiba-tiba aku ketularan narsisnya kamu”
“hahaha” Fakhry hanya terkekeh

****

Sekarang karna semua orang di SMU Merak sudah tahu bahwa aku adalah pacar dari ketua osis dan ketua tim basket, aku gk takut lagi dilihatin jalan berdua ama Fakhry, walaupun hati ku sering was-was ketika ada fans Fakhry yang benar-benar nempel ama Fakhry, tapi aku berusaha menepis perasaan cemburuku itu karna cakka belum berlebihan dengan fansnya
“eh Ra, besok kan hari sabtu kita ke ancol yuk” ajak Fakhry, sekarang aku dan dia ada di kantin sekolah
“gk seru! Dufan aja gimana”
“dufan?”
Aku mengangguk
“yaudah aku ikut mau kamu”
“ih kamu baik banget sih Khry”
“Fakhry gituloh”

****

Sabtu pagi, aku sudah siap di ruang tamu rumah ku sekarang tinggal menunggu Fakhry untuk menjemputku
“cie yang mau nge-date” ledek Coky
“ih kenapa harus kamu yang sewot bunda aja gk marah atau kamu cemburu karna gk dibolehin ama bunda untuk pacaran” balasku meledek Coky
“yee bukan gitu kak, yah heran aja ternyata semudah itu yah lupain seseorang”
“Coky kamu mau lihat kakak nangis darah, plis deh jangan ungkit masalah itu. Karna kakak juga gk mau ungkit tentang Asya dihadapan kamu”
Coky memajukan mulutnya
“yee ngancemnya pake kata Asya melulu”
“habisnya siapa lagi atau teman baru kamu itu si Milla, cewe yang selalu kamu anter jemput”
“ih bukan kak, Milla itu cuman teman aku”
Tiitt..tiitt… terdengar suara klakson dari depan rumah, aku tahu siapa itu. Ia pun berdiri
“aku pergi dulu bun” pamitnya  pada bundanya yang ada di dapur. Ia segera berlari ke luar rumah
“udah siap?” tanya Fakhry ketika Clara berada disamping motornya
“iya”
“yaudah berangkat sekarang”
Clara naik ke jok motor Fakhry
“let’s go” teriak Clara lalu memeluk pinggang Fakhry

****

Sesampai di dufan, kami berdua masuk, Fakhry mengandeng tanganku dan mengikuti kemanapun aku berlari. aku berhenti di depan wahana halilintar
“Khry, kamu mau naik apa dulu?” tanyaku
“terserah kamu” jawab Fakhry
“yaudah halilintar aja yah”
“Ayok, siapa takut” tantang Fakhry lalu menarikku masuk ke dalam antrian
Antrian berakhir, giliran aku dan Fakhry naik ke wahana halilintar
Aku dan Fakhry duduk di gerbong paling depan, pengaman turun dan menopang tubuh kami. Tak lama kemudian kereta pun berjalan. Awalnya perjalanan lancar aku menikmatinya, di perth aku jarang sekali ke tempat hiburan seperti ini
Kereta pun menanjak
“waa….”  Jerit para penumpang yang lain termasuk aku. Aku menggenggam tangan Fakhry dengan erat
Perjalanan selesai, kereta berhenti aku dan Fakhry segera turun dari gerbong
“sekarang mau kemana lagi Fakhry?” tanyaku semangat, Fakhry menoleh ke arahku
“semangat banget Ra?”
“iya soalnya ini pertama kalinya aku ke dufan, biasanya aku cuman di ceritain ama Coky”
“hahaha gk nyangka orang kayak kamu gk pernah ke dufan”
“iya soalnya selama ke perth aku udah gk pernah balik ke indonesia”
“yaudah kita ke tornado”
“ayo”

****

Sore menjelang, sebelum kembali ke rumah Fakhry mengajakku makan di restaurant, setelah itu baru kita pulang
Setelah sampai di rumahku aku turun dari motor Fakhry

“gk mampir dulu Khry?”
“gk usah, udah sore”
“oh yaudah.”
“hari senin tunggu aku yah”
“kalau lama aku tinggalin” kataku
“iya, aku balik, bye”
“bye”
Setelah Fakhry menghilang, aku membuka gerbang lalu masuk ke rumah
“Clara pulang” kataku berjalan ke lantai dua
“koq pulangnya sore sayang?” tanya bundaku
“kan ke dufan bun, gk seru dong kalau cuman sebentar”
“oh… yasudah kamu mandi sana”
“sip bunda”

****

Hari senin aku berangkat ke sekolah bersama Fakhry. seperti biasa tiba disekolah kami menjadi topik hangat gosip pagi ini, tapi aku sudah biasa dengan hal itu semenjak menjadi kekasih Fakhry. aku memasuki kelasku dan Fakhry berjalan ke kelasnya
“pagi semua” sapaku
“pagi Clara” balas Ryan dan Selda pasangan kekasih yang sangat langgeng –menurut yang kudengar-
“eh Vanya mana, koq belum datang?” tanyaku
“dia sakit!” jawab Selda, aku duduk di kursi Vanya karna Ryan mengambil tempatku
“sakit? Sakit apa?” tanyaku
“paling cuman sakit hati karna lihat kedekatan kamu sama Fakhry” kata Ryan
Aku jadi sedih, aku bahagia diatas kesedihan orang lain, tapi mau bagaimana lagi aku juga tidak bisa mengingkari bahwa aku sayang dengan Fakhry
Selda mengelus pundakku
“kamu gk salah koq. Vanyanya aja yang gk bisa nerima semua ini” kata Selda. Ryan mengangguk membenarkan kata Selda
Aku hanya membalasnya dengan senyum tipis

****

Saat istirahat di kantin sekolah, aku duduk disamping Fakhry. dan Selda duduk disamping Ryan
“eh ntar sore aku ama Ryan mau nge-date. Mau double date gk?” tanya Selda.
Aku menoleh menatap Fakhry
“boleh!” balas Fakhry, aku tersenyum
“yaudah kita ketemuannya di rumah aku setelah kalian shalat asar” kata Ryan
“aku sih tergantung Fakhry soalnya Fakhry tuh LOLA banget” balasku, Selda menahan tawanya sedangkan Fakhry mencubit lenganku
“aw… Akhry sakit tahu” kesalku, mengelus lenganku
Fakhry mendekatkan wajahnya
“jangan buka aib aku Clara” bisiknya
Aku memukul pundaknya
“fansmu gk dengar koq” kataku. Melanjutkan menyeruput teh botol yang ada didepanku
“Fakhry emang gitu ik, paling takut kalau aibnya kebongkar” kata Ryan
“gk usah nambahin Yan” geram Fakhry
Aku hanya terkikik melihat tingkah Fakhry

****

Sore harinya, kali ini Fakhry tidak telat, melihat perubahannya aku sangat senang.
Sesampai di rumah Ryan kita langsung saja pergi kemana saja Fakhry mau.. mungkin karna dia yg paling tua makanya diturutin aja ama kita-kita
Lokasi pertama, TMII.
“seriusan kka, mau ketempat ini” tanya Ryan aneh
“iya, nge-date sekaligus berbaur dengan alam indonesia” kata Fakhry
“kayaknya aku tahu deh tujuan kamu ketempat ini” balasku
Yang lain menoleh ke arahku
“untuk apa?” tanya mereka bertiga
“apalagi kalau bukan ngenalin suku, ras, budaya bahasa, dan segala keunikan yang ada di indonesia ke aku” tebakku. Melipat kedua tanganku didepan dada.
Fakhry tersenyum, lalu merangkulku. Ryan juga merangkul Selda
“tau aja kamu. Yuk kita lihat budaya indonesia” kami pun mulai berjalan, dari provinsi satu ke provinsi yang lain.
“Fakhry benar-benar sudah dewasa” batinku menatapnya dalam lalu kembali fokus pada pemandangan yang ada. Banyak flora dan fauna yang tersebar di seluruh indonesia yang perlihatkan di TMII, jujur ini pertama kalinya aku kesini dan ini juga pertama kalinya aku melihat keunikan Indonesia
Setelah puas mengelilingi TMII, kita ke lokasi kedua. Mall
“ada yang mau nonton?” tanyaku
“iya Ra, kayaknya film hari ini seru!” balas Selda. Aku menatap Fakhry meminta persetujuan
“ok kita ke XXI” balas Fakhry.
Kami pun naik ke lantai 4 dimana XXI berada
Aku dan Selda menunggu di kedai es krim. Sedangkan Fakhry dan Ryan pergi membeli tiket. Tak lama kemudian merekapun kembali
“filmnya masih ada satu jam nih! Jadi mau kemana dulu” tanya Ryan, duduk disamping Selda dan Fakhry duduk disampingku
“aku sih terserah Fakhry” kataku.
“yaudah aku ama Selda, jalan dulu yah. Bye…” pamit Ryan. beranjak dan mengandeng tangan Selda menjauh dari kedai es krim
Aku terdiam, menunggu Fakhry mengucapkan kalimatnya
“TimeZone??” tanyanya. aku mengangguk. Ia pun berdiri, aku juga
“sebenarnya aku pengen banget narik kamu ke tempat TimeZone berada, tapi karna aku baru 3 minggu disini, dan ini pertama kalinya aku pergi ke Mall. Jadi aku gk bisa jalan kalau gk kamu tuntun” kataku
Fakhry tersenyum lalu menarikku, aku tertawa

****

Setelah 40 menit bermain, aku dan Fakhry pun kembali ke XXI karna film akan dimulai 10 menit lagi. Di dekat pintu masuk sudah berdiri Ryan dan Selda. Aku dan Fakhry menghampiri mereka
“yuk masuk” ajakku. Mereka mengangguk lalu kami pun masuk
Aku duduk disebelah kanan Fakhry, di sebelah kananku ada Selda dan Ryan duduk disampingnya.
Lampu dimatikan, dan film pun di putar. Filmnya menghanyutkan, membuatku yang memang mudah tersentuh menjadi menangis, Fakhry menoleh ke arahnya, mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan menghapus air mata di pipiku
“dasar manja!” ledeknya, aku menatapnya sinis
“emang salah?” tanyaku kembali fokus pada layar didepanku
“yah gk sih, tapi kamu lebay”

****

Sudah setahun aku berpacaran dengan Fakhry, dan sekarang dia bukan lagi siswa SMU Merak melainkan mahasiswa di universitas, walaupun waktu ku untuk bertemu dia tidak sesering dulu lagi tapi hubungan kami tetap baik, tapi kepercayaanku itu tak bertahan lama, Fakhry mengkhianati aku. dan bahkan kali ini aku lebih sakit lagi daripada saat disakiti oleh seseorang
Aku melihat itu, dengan mata kepalaku sendiri saat aku ingin menemui Fakhry di rumahnya. Saat aku melihat gadis itu berdiri disamping Fakhry aku santai saja, itu hal yang wajar. Dan saat gadis itu mulai merengek pada Fakhry aku sudah was-was. dan saat Fakhry mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu perasaanku hancur mataku berkaca-kaca aku terdiam ditempatku, bahkan sudah 20 menit berlalu Fakhry belum menjauhkan wajahnya dari wajah gadis itu.
“KAMU JAHAT KHRY!!! BULLSHIT!!! I HATE YOU!! You and Me end!” kesalku pada Fakhry lalu berlari ke rumahku. Yah layaknya wanita yang lain, aku berharap Fakhry akan menahan tanganku tapi nihil Fakhry membiarkanku pergi begitu saja
“secepat itu juga kah cinta harus meningalkanku”
BRUKK!!! seseorang menabrak ku, samar-samar kulihat wajahnya dan sepertinya wajahnya tak asing bagiku
“Pardon me!” mohonnya. Aku menunduk
“No problem” balasku lalu berlari
“Clara‼” kudengar ada suara yang memanggilku tapi kuhiraukan, hatiku sedang hancur saat ini
Luka lamaku kembali membekas, luka yang pernah dikikis oleh cinta Fakhry sekarang kembali membekas dihatiku bahkan lebih parah
Sesampai dirumahku, Coky sedang kedatangan tamu, siapa lagi kalau bukan Milla. Kubiarkan mereka pacaran, dan aku berjalan ke kamarku dengan menutupi wajah sedihku. Coky dan Milla sempat heran dengan diriku tapi kubilang aku tidak apa-apa.
Malam harinya, Coky masuk ke kamarku
“kakak”
“apa” tanyaku dari balik bantalku
“kakak kenapa?”
“broken heart again dek dan dengan kejadian yang sama kayak kak Kevin dulu”
Coky mendekat ke arahku
“maksud kakak, kak Fakhry khianatin kakak?” tanya Coky. Aku mengangguk
“keep smile kak, aku yakin masih ada cowo lain yang bisa benar-benar tulus sayang sama kakak”
Aku hanya mengangguk

****

“Ra, koq ngelamun aja?” tanya Selda.
Aku mengangkat wajahku menatap Selda
“kamu kenapa Ra?” tanya Selda lagi
“Fakhry Sel!”
“iya, Fakhry kenapa?”
Aku memeluk Selda
“Fakhry … dia…”
“hush… udah, gk usah bicarain sekarang, setelah kamu tenang, baru kamu ceritain sama aku dan Ryan” aku mengangguk

****

Saat istirahat di kantin sekolah, aku menceritakan apa yang kulihat kemarin kepada Ryan dan Selda. Selda kesal dan Ryan sepertinya emosi
Aku berusaha tersenyum, walaupun berat
“gpp koq, mungkin ini udah yang terbaik” kataku
“don’t give up ik, kamu harus semangat. Masih ada koq cowo selain Fakhry” kata Selda
“cowo kayak dia gk usah di kasih maaf deh Ra” kesal Ryan
“tapi bagiku Fakhry itu hal terindah yang pernah kumiliki”
“ik, untuk apa memiliki hal terindah tapi dia tidak bisa selalu indah di hidupmu”
“berat lupain dia Yan”
“belajarlah mulai dari sekarang Ra”
Aku hanya mengangguk menerima masukan dari temanku
“hei semua” sapa seseorang mendekat ke meja kami
“hai Vanya” kata Selda. Vanya duduk disampingku
“Clara kamu kenapa?” tanya Vanya
“dia lagi sakit hati Van” jawab Ryan
“sakit hati?”
“iya”
“emangnya Clara kenapa?”
“Fakhry selingkuh”
“och”
Vanya mengelus pundakku
“yang sabar yah Ra”

****

dua hari kemudian, aku melihat Vanya datang di antar oleh seseorang, aku kenal motor itu. Satria Blue milik Fakhry
“apa Vanya dan Fakhry …??”  batinku
“pagi Ra” sapa Vanya
“pagi” balasku
“kamu mau kekelas”
“iya”
“yaudah bareng yuk”
Kami pun jalan berdua ke kelas
“hm… Van sekarang kamu ama kak Fakhry udah deket yah?” tanyaku pura-pura bahagia
“iya, bahkan aku udah jadian ama kak Fakhry”
“what? Jadian? Ini baru tiga hari setelah aku dan Fakhry putus” batinku
“hm.. selamat yah.. udah berapa lama nih?”
“baru juga kemarin”
“och. Semoga kalian langgeng”
“pasti Ra”
Ini benar-benar menyesakkan. Tiga hari yang lalu Fakhry yang dulunya kekasihku menjadi mantanku dan Vanya sahabatku jadian dengan mantanku tepat dua hari setelah aku putus dengannya
“secepat itukah aku tergantikan?”
****

Bagi Fakhry mungkin aku bukan siapa-siapa tapi bagiku Fakhry adalah hal terindah yang pernah kumiliki. Hal terindah yang pernah kuinginkan. Hal terindah yang pernah kurasakan. Hal terindah yang pernah kudambakan. Hal terindah yang pernah kudapatkan. dan Fakhry dihatiku takkan pernah terganti

****

1 minggu kemudian…
Di kantin sekolah. Seorang yang sangat mirip dengan Fakhry memasuki kantin, dan aku mengenali dirinya
“Kevin?” batinku
“tapi kenapa dia ada disini? dia kan ada di Perth” batinku
“huahh Clara aku diputusin sama Fakhry” keluh Vanya. aku menoleh
“apa? Kamu putus sama Fakhry?” tanyaku
Vanya mengangguk sedih
“dasar cowo brengsek” umpat Ryan
“pasti Fakhry punya alasan lain” batinku
“kalian kan baru jadian seminggu yang lalu” tanya Selda
“aku gk tahu apa masalahnya sampai Fakhry tega mainin perasaan aku kayak gini, tanpa alasan yang jelas dia langsung aja nelpon aku dan bilang kalau aku udah gk ada hubungan apa-apa lagi sama dia”
“dia emang cowo BULLSHIT” Selda ikut-ikutan mengumpat sedangkan aku kembali teringat pada wajah baru yang masuk ke kantin tadi”
“yaudah kamu yang sabar Van, cowo gk cuman Fakhry aja koq” balasku
“eh Sel, hari ini ada murid baru yah” tanyaku mengacuhkan kesedihan Vanya
“ah iya Ra, mukanya mirip ama Fakhry. pindahan dari perth” jelas Selda
“dia di kelas berapa?”
“XII. Ipa-2”
“namanya Kevin yah?” tanyaku
“aku juga kurang tahu sih. Soalnya cuman dengar anak-anak yang ngomongin di koridor tadi”
“och…”
“Kevin. What are you doing here?”

****

Malam harinya aku dihantui rasa penasaran tentang murid baru itu. Aku tahu wajah yang tadi itu, itu adalah Kevin, tapi untuk apa dia datang ke indonesia, lama aku melamun hingga sebuah benda membentur kaca jendelaku. Akupun berjalan ke jendala, membuka jendela. dan mengambil benda itu
“pesawat dari kertas? Fakhry?” batinku, lalu membuka kertas itu
Malam Clara, aku kangen sama kamu. Plis keluar sebentar aku mau bicara empat mata sama kamu
Aku mau jelasin soal yang dulu itu, kamu cuman salah paham koq Ra
Aku juga gk niat pacaran sama Vanya, itu cuman Vanya aja yang nembak aku, dan karna Vanya nembak aku saat keadaan aku sangat sedih karna harus kehilangan kamu, aku jadi asal-asalan jawabnya
Aku kembali ke dalam, mengambil sebuah polpen dan kertas
Kenapa baru sekarang kamu berani meminta maaf

Setelah aku menulis kalimat di kertas itu, aku lalu melipatnya membentuk sebuah pesawat lalu kembali ke jendela dan melemparnya ke arah Fakhry 
Tak lama kemudian sebuah pesawat kertas mendarat disampingku
Karna baru saat ini aku menemukan cara yang tepat untuk meminta maaf padamu setelah aku merenung selama seminggu ini

Lebih baik kamu pergi dari rumahku, karna saat ini aku tak ingin mendengar apapun dari kamu

Ra, aku masih sayang sama kamu

BULLSHIT!!!

****

Hari ini hari sabtu. Artinya sekolah libur. Kulihat Coky sudah bersiap-siap jalan dengan Milla sedangkan Ciko dia masih asyik dengan mimpinya
“Ky, kakak mau tanya sama kamu?”
“tanya tentang apa kak?”
Aku duduk disamping Coky
“menurutmu kakak harus kasih kesempatan kedua gk untuk kak Fakhry?” tanyaku
Coky menatapku
“apa waktu kak Kevin nyakitin kakak, kakak kasih kak Kevin kesempatan kedua?” tanyanya balik
“yah gk sih, tapi Fakhry ini dia itu hal terindah dalam hidup kakak”
“yaudah kakak pikir dari hati kakak, apa yang harus kakak putuskan, soalnya Coky buru-buru. Kasihan kalau Milla harus nunggu lama” pamit Coky menteng sweater
“kamu hati-hati” pesanku
“sip kak” balasnya lalu keluar.
Aku menyandarkan kepalaku
“apa aku harus belajar lupain kamu Khry?” batinku

****

Keesokan harinya saat pulang sekolah aku menunggu Ciko untuk menjemputku
“aduh Ciko lama banget sih!” kesalku.
“hai, what are you doing here?” tanya seseorang
“waiting my younger brother” balasku lalu menoleh
“Kevin?” tanyaku heran
“masih ingat, aku fikir kamu sudah lupa denganku” balasnya
“apa yang kamu kerjakan di jakarta”
“aku sedang mencari seseorang yang bernama Clara”
“untuk apa kamu mencarinya?”
“aku hanya mau minta maaf”
“tidak ada kata maaf untuk orang sepertimu”
“terserah tapi kamu tahu sendirikan itu sudah kebiasaan aku, memberikan kepada gadis yang butuh itu atau kamu baru mau memaafkan aku setelah aku kasih itu juga ke kamu”
Kevin meraih tanganku, mengangkat daguku dan mendekatkan wajahnya
Aku tediam sesaat lalu tersadar
“aku gk butuh. Aku bukan cewe murahan kayak mereka”
Aku mendorong wajah Kevin dan menghempaskan tangan Kevin lalu berjalan menjauh darinya
“Ra, please forgive me” mohon Kevin
“never”
Kevin menahan lenganku, membalikkan badanku dan menatap mataku
“Ra, kenapa kamu gk bisa maafin aku”
“karna aku udah punya seseorang yang lebih baik dari kamu” bohongku
“apa dia pernah kasih kamu first kiss”
“apa sih urusan kamu Vin, lepasin tangan aku” aku berusaha melepaskan tanganku dari cengkraman Kevin. Tapi tangan Kevin sangat keras
“Kevin lepasin aku!” bentakku, Kevin hanya memperkeras cengkramannya dan kembali mengangkat wajahku, aku berusaha memalingkan wajahku
“Ra lihat aku” perintahnya
“aku gk mau”
“woy lepasin gk cewe itu” teriak seseorang. Aku dan Kevin menoleh
“Fakhry” batinku
Fakhry mendekat, Kevin pun menarikku untuk berdiri dibelakangnya
“lepasin gk cewe itu” perintah Fakhry
“kalau aku gk mau apa urusan kamu”
“itu artinya kamu cari masalah sama aku”
Tanpa basa basi Fakhry menarik kerah baju alvin
“lepasin gk, dia kesakitan. Kamu ngerti gk sih” bentak Fakhry
Kevin melepaskan cengkramannya aku pun menjauh sambil memegangi tangannya yang kesakitan
Kevin memegang tangan Fakhry
“hei jangan gitu, kita bisa bicarain dengan cara baik-baik”
Fakhry pun melepas tangannya dari kerah baju Kevin, seketika Kevin melepaskan tinjunya
“Fakhry” pekik Clara. Fakhry mengangkat wajahnya
“kamu jangan sok pahlawan yah” kata Kevin
Fakhry membalas tindakan Kevin tadi
“Fakhry udah” teriakku berlari ke arah Fakhry.
Kevin tak berhenti memukuli Fakhry, begitupun Fakhry yang tak mau kalah dengan Kevin
Aku menahan lengan Kevin
“Kevin udah jangan sakitin dia” mohonku, tapi tak di respon oleh Kevin. Kevin malah mendorongku ke jalan raya
Titt..tittt… terdengar suara klakson mobil aku panik berusaha berdiri
“Clara awas” teriak Fakhry berlari ke arah ku dan mendorong ku ke sebrang jalan
Dan……
“brukkk” Fakhry lah yang tertabrak mobil itu. Saat Fakhry sudah tergeletak di aspal dengan kepala yang berlumuran darah mobil itu langsung pergi
Kevin terdiam tubuhnya bergetar
“kenapa dia yang harus terluka, harusnya aku, aku yang mendorong Clara ke jalan, tapi kenapa aku tidak menyelamatkan Clara. kenapa harus dia. Apa seperti inikah cinta yang tulus, rela mati demi orang yang ia sayangi”
Aku memangku kepala Fakhry dan menghapus darah yang mengalir
“Fakhry buka mata kamu, bilang kalau kamu gpp” pintaku
“Clara” lirih cakka
Aku tersenyum
“Fakhry, aku senang bisa lihat kamu lagi, aku senang bisa ada didekat kamu lagi”
Fakhry menghapus air mata di pipiku
“aku juga tapi kamu jangan nangis, aku gk mau lihat air mata kamu jatuh”
“Khry, kenapa kamu lakuin ini, kenapa kamu harus nolongin aku. Harusnya tadi kamu biarin aku ketabrak ama mobil itu”
Fakhry menggeleng
“gk Ra, itu gk boleh terjadi.  Aku sayang sama kamu dan aku gk mau kehilangan kamu”
“tapi aku juga… aku juga masih sayang sama kamu dan aku juga gk mau kehilangan kamu”
Fakhry tersenyum
“aku sayang kamu Ra” tutur Fakhry. matanya pun mulai tertutup
“FAKHRY!!!” teriakku sambil memeluk Fakhry
“Fakhry bangun” pintaku, tapi itu mustahil Fakhry sudah pergi meninggalkanku

****

1 minggu sudah berlalu semenjak kepergian Fakhry, kepergian Fakhry itu merupakan hal terburuk yang pernah dialami Clara. Kevin sendiri merasa bersalah karna telah membuat orang yang ia sayangi bersedih
“kakak ngapain kesini?” tanya Coky  saat membukakan pintu untuk Kevin
“kakak hanya ingin meminta maaf pada Clara”
“gk ada. Sekarang kak Clara udah benci banget ama kakak. sana pergi” usir Coky menutup pintu tapi ditahan oleh Kevin
“Coky kakak mohon, kakak mau minta maaf ke Clara. kakak tahu selama ini kakak salah, jadi tolong kasih kakak kesempatan kedua”
Coky tampak berpikir
“gk ada salahnya percaya sama dia, kalau dia berani nyakitin kakakku lagi, gk akan ada maaf”
“tapi kakak ingat ini kesempatan terakhir kakak, kalau kakak nyakitin kak Clara lagi, kakak jangan harap bisa ngelihat wajah kak Clara lagi. Paham!” kata Coky
Kevin mengangguk
“kakak janji”
Coky menyingkir dari ambang pintu
“kak Clara ada di kamarnya, di lantai dua” kata Coky lalu pergi

****

“Ra, plis maafin aku” mohon Kevin
“apa dengan kata maaf kamu bisa balikin Fakhry”
“Clara, aku tahu aku gk mungkin buat Fakhry hidup kembali, tapi dia udah pergi, tolonglah lupain yang udah gk ada”
“Vin, kenapa sih kamu tuh jahat banget sama aku?”
“Ra aku gk jahat, aku sayang sama kamu dan kali ini aku janji, aku akan balas semua kesalahanku. Jadi tolong maafin aku dan terima aku lagi jadi kekasih kamu”
“gk, aku benci ama kamu”
Clara meninggalkan kelas

****

Kantin SMU Merak
“Ra, lo napa ngelamun mulu” tanya Vanya
“Ra, kalau tentang Fakhry udah jangan sedih terus, coba deh kamu belajar ikhlasin dia”
Clara menggeleng
“bukan karna Fakhry koq aku kayak gini”
“terus karna apa?” tanya Ryan
“Kevin”
“what? Kevin?” tanya ketiganya serempak (Selda, Ryan, Vanya)
Clara mengangguk
“anak kelas XII. Ipa-2 itu” tanya ketiganya lagi
Clara kembali mengangguk
“jangan bilang kalau dia…” tanya Vanya mengantungkan kalimatnya
“dia itu mantan aku, dan sekarang dia minta balikan”
“apa? Cowo itu mantan Clara! kenapa dia beruntung banget, udah dapat Fakhry, sekarang mantannya ngajakin balikan” batin Vanya
“kalau kamu masih sayang sama dia, kamu terima aja lagi” saran Selda
“tapi Sel, aku tuh cuman bisa nyimpen nama Fakhry di hatiku, sulit menghapusnya”
Selda menepuk bahu Clara
“kalau gitu kamu bicara yang baik ama dia dan bilang kalau kamu udah gk mau jadi cewenya” kata Selda
“atau kasih dia pilihan Ra, sahabat atau sama sekali gk” tambah Ryan
“yaudah aku akan coba. Makasih yah teman”
“sama-sama Ra”

****

Bel pulang sekolah, Kevin kembali mencoba meminta maaf pada Clara. Ia pun segera pergi ke kelas Clara
“Ra, gimana jawaban kamu udah berubah” tanya Kevin duduk disamping Clara. Clara mengubah posisi duduknya menghadap ke Kevin
“apa sih mau kamu?” tanya Clara jutek
Kevin tersenyum, manis sekali, membuat Clara kaku dan merasa aneh berada di dekat Kevin
Kevin meraih kedua tangan Clara
“Ra, aku mohon maafin aku, aku janji gk akan nyakitin kamu lagi. Yah, maukan jadi pacar aku lagi”
Clara menggeleng, melepas tangan Kevin
“gk perlu sejauh itu Vin untuk membuat aku percaya kalau kamu udah berubah. Aku mau kamu jadi sahabat aku, mungkin dengan menjadi sahabatku kau bisa lebih baik dari yang dulu” kata Clara beranjak, mencangklong tasnya dan mulai berjalan.
Kevin terdiam sesaat lalu mengejar Clara
Menahan lengan Clara dan membalikkan badan Clara
CUP!!! Sebuah kecupan manis mendarat mulus di kening Clara
“makasih, sebagai sahabatpun aku terima koq” kata Kevin. Clara terdiam sambil menganga
Kevin menarik tangannya untuk segera pergi meninggalkan sekolah

****

Sebelum mengantar Clara pulang ke rumahnya Kevin sengaja mengajak Clara makan siang

“ini mbak, mas, silahkan” kata pelayan itu sambil meletakkan pesanan Kevin dan Clara di meja
“makasih yah mbak” balas Clara. Pelayan itu tersenyum lalu pergi.
“Clara” panggil Kevin.
“apa”
“a” perintah Kevin
“hih Kevin aku bisa sendiri tau”
“udah  buka mulut kamu a..” kata Kevin, Clara lalu membuka mulutnya  
“sekarang gantian ah” kata Clara lalu menyuapi Kevin, tapi Clara bukannya mengarahkan sendoknya ke mulut Kevin melainkan ke pipi Kevin jadinya pipi Kevin belepotan deh
“hih Clara rese deh, gantian aku ih” sekarang gantian pipi Clara yang belepotan. Dan sekarang mereka itu bukannya makan malah main-mainin makanan mereka, Dan alhasil muka mereka pada kotor. Clara lalu mengambil tissue yang memang disediakan di meja itu, lalu dia bersihkan semua kotoran di pipinya, lalu membersihkan pipi Kevin. Saat Clara ingin membersihkan makanan yang ada di bibir Kevin, tangan Kevin menahan lengan Clara, lalu mata mereka saling bertemu sangat lama sampai mereka berdua melamun. Clara lalu tersenyum. Akhirnya mereka pun tersadar dari lamunannya. Kevin pun melepas lengan Clara, Clara juga sudah tidak membersihkan sisa makanan di bibir Kevin
“hehehe” Kevin nyengir sambil menggaruk bagian belakang kepalanya yang gk gatal
“maaf” kata Clara sambil menunduk, karna dia merasakan wajahnya mulai memerah
“ini, bersihin tuh bibir kamu” lanjut Clara sambil menyerahkan tissue ke Kevin tanpa mendongakkan kepalanya
“makasih” balas Kevin sambil tersenyum

****

Mungkin Fakhry adalah hal terindah dalam hidup Clara, tapi ternyata didalam hati Clara tetap saja Kevin lah hal terindah yang pernah dimilikinya. Walaupun dulu Kevin pernah menyakitinya tapi Kevin sudah membayar lunas kesalahannya. Memberikan yang terbaik untuk Clara hingga Clara mampu menghapus nama Fakhry di hatinya dan menggantikannya dengan nama Kevin
Sampai saat ini rasaku bertahan disini, Rasa yang tak akan hilang oleh waktu
Kau tidak disini, Aku pun tiada di hatimu
Jiwaku ikut menghilang bersamamu
Tak terkira disampingmu
Adalah hal terindah yang pernah kuinginkan
Tak terkira dipelukmu
Adalah hal terindah yang pernah kurasakan
Kau tidak disini
Aku pun tiada di hatimu
Jiwaku ikut menghilang bersamamu
Melukiskan segenap keindahan..dirimu
Hanya kau yang aku mau..kamu..kamu
Tak terkira disampingmu
Adalah hal terindah yang pernah kuinginkan
Tak terkira dipelukmu
Adalah hal terindah yang pernah kurasakan
Tak terkira milikimu 
Adalah hal terindah yang pernah kudambakan
Tak terkira dekapanmu
Adalah hal terindah yang pernah kudapatkan
Tak kan rela melepasmu
Walau dihadapanmu ku kan terus menangis..bahagia


*_* THE END *_^

Komentar